Kamis, 12 Juni 2014

PORKES STKIP AH SINGARAJA


. 6

1.1  Latar Belakang  Masalah

      Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) mengkaji seperangkat fakta, peristiwa,konsep, proposisi, dan generalisasi yang berkaitan dengan fenomena sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara (Sukadi, 2006: 58). Pada jenjang SMK  mata pelajaran IPS memuat materi Sejarah, Ekonomi, Sosiologi, dan Antropologi. Melalui mata pelajaran IPS,  peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis dan bertanggung jawab serta warga dunia yang cinta damai (Stopsky & Lee, 1994: 10).
Mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat. Kemampuan tersebut diperlukan untuk memasuki kehidupan masyarakat yang dinamis. Mata pelajaran IPS disusun secara sistematis, komprehensif, dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat. Dengan pendekatan tersebut diharapkan peserta didik akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam pada bidang ilmu yang berkaitan. Mata pelajaran IPS di SMK bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.1) Memahami konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya. 2)  Berpikir logis dan kritis serta mengembangkan rasa ingin tahu, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan social.3)  Berkomitmen terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.4)  Mampu berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk baik di tingkat lokal, nasional, maupun global (Sudira. 2006).
Untuk mencapai tujuan tersebutproses pembelajaran IPS di kelas diharapkan lebih efektif. Hal ini terjadi apabila guru melaksanakannya dengan memahami peran, fungsi dan kegunaan mata pelajaran IPS yang diajarkan. Selain pemahaman akan hal-hal tersebut, keefektipan juga ditentukan oleh kemampuan guru untuk mengubah model pengajaran menjadi model pembelajaran yang lebih inovatif  sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Permen Diknas No. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang dilandasi oleh filsafat kontruktivisme mensyaratkan pelaksanaan pembelajaran yang bersifat lebih mengaktifkan peran siswa, pembelajaran berfikir kritis pada siswa SMK sangat diperlukan untuk mempersiapkan siswa menghadapi persaingan pada jaman global, membantu siswa mengatasi permasalahan sehari hari dan menyiapkan kematangan emosional siswa. Salah satu model pembelajaran yang dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa adalah model pembelajaran yang berbasis proyek atau Project-Base Learning. Model pembelajaran ini memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk menggali potensi diri secara mandiri dan sesuai keinginan dan tujuan dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar dengan caranya sendiri dalam menyelesaikan masalah, sehinnga pada diri siswa muncul bagaimana cara menganalisis masalah sesuai dengan konsep pikiran yang dimiliki. Hal ini merupakan salah satu proses berpikir kritis. Keterampilan berpikir kritis sangat diperlukan dalam era global untuk meningkatkan  kemampuan bersaing, mengatasi masalah-masalah kehidupan yang semakin kompleks, dan menyiapkan siswa menghadapi dunia kerja. Berfikir kritis juga diperlukan untuk proses kematangan emosional, sosial, dan pengetahuan moral serta spiritual. Dalam berpikir kritis  siswa dapat mempelajari fakta melalui serangkaian proses untuk penanaman konsep, pengulangan, dan penguasaan secara mendalam (Louis E. R.2001)
Menurut Chang & Kou & You (2012:) penerapan model pembelajaran Project-Base Learningadalah lebihmenantangdan lebih menarikbagi siswa,sehingga merekamendapatkan pelajaran yang bermanfaatdari praktek yang  mereka  laksanakan.
Salah satu Standar kompetensi mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)di SMK kelas X adalah menganalisis faktor konflik sosial  dalam masyarakat yang menuntut kemampuan siswa memiliki kemampuan berpikir kritis, analitis dan kreatif. Namun kenyataan yang dihadapi di SMK Negeri 1 Sukasada sesuai dengan hasil observasi dan wawancara yang dilaksanakan pada tanggal 2 Nopember Tahun 2012 khususnya di kelas X Multimedia 3 menunjukkan ada beberapa kendala yang dialami siswa selama proses belajar mengajar berlangsung yaitu  sebagai berikut.
1.      Metode yang digunakan masih konvensional
Metode yang digunakan oleh guru dalam mengajar masih menggunakan metode ceramah dimana guru menjelaskan dan menyebutkan berbagai fakta sosial baik yang menyangkut materi  Sejarah, Ekonomi, Sosiologi maupun Antropologi. Materi-materi pelajaran IPS tersebut dicatat siswa secara terpisah-pisah baik berupa fakta, peristiwa, fenomena, konsep ataupun variabel-variabel yang masing-masing berdiri sendiri-sendiri. Dengan fakta-fakta yang dicatat tersebut, siswa kemudian belajar menghafalkan materi tersebut sebanyak mungkin, agar mereka lulus dalam tes, baik yang bersifat formatif maupun sumatif. Makin banyak materi fakta-fakta yang dapat dihafal oleh siswa, ada indikasi pula bahwa makin tinggilah prestasi belajar atau hasil belajar siswa yang hanya diukur melalui tes objektif. Siswa belajar hanya dengan melakukan kegiatan membaca bahan ajar IPS seperlunya dan seadanya, mencatat fakta-fakta penting kalau diperlukan, mendengarkan ceramah atau cerita guru, mengerjakan PR dengan menjawab soal-soal yang terdapat pada bahan ajar, menghafalkan fakta-fakta tersebut jika akan ada ulangan atau tes, merespons pertanyaan guru dalam kegiatan tanya jawab di kelas jika bisa, dan siswa tidak mampu  menjawab  walaupun sifatnya pengulangan apa yang telah dibahas. Proses belajar seperti ini jelas sangatlah terbatas dalam memanfaatkan potensi kemampuan berpikir, kepribadian, dan keterampilan siswa.
Secara kognisi, belajar IPS seperti ini hanya mengandalkan kemampuan kognitif tingkat rendah karena siswa hanya belajar menghafalkan fakta-fakta dan konsep-konsep materi pelajaran IPS tanpa pengertian yang mendalam dan bermakna (Gredler,1992:68). Kemampuan berpikir seperti ini jelas kurang bertahan lama. Karena itu, siswa sering baru belajar ketika tes akan diadakan. Jika tidak ada tes, siswa tidak akan belajar.
2.      Siswa kurang peka terhadap masalah sosial
Siswa kurang mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kreatif. Siswa juga menunjukkan kurangnya kemampuan dalam menggunakan penalaran dalam mengambil keputusan khususnya dalam menganalisis konflik-konflik sosial yang terjadi dalam masyarakat dan lingkungan sekolah. Masalah ini ditunjukkan dengan tidak adanya inisiatif siswa untuk bertanya maupun menjawab bila dihadapkan dengan suatu permasalahan yang membutuhkan proses berpikir dan siswa kurang peka  terhadap masalah-masalah yang terjadi dalam masyarakat.
3.         Dalam proses belajar mengajar guru kurang inovatif
Masalah lain dalam proses pembelajaran, guru juga jarang menggunakan model pembelajaran dengan memberi kesempatan kepada siswa secara otonom mengkonstruk pengetahuan mereka sendiri  sampai menghasilkan produk, dimana produk adalah merupakan  tuntutan siswa SMK. Guru mata pelajaran IPS juga kurang maksimal dalam menggunakan media pengajaran dan pembelajaran yang interaktif khususnya penggunaan  media Power Point.
Berdasarkan fenomena di atas peneliti dan guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas X SMK Negeri 1 Sukasada bersepakat untuk mencari solusi terhadap masalah-masalah yang terkait dengan kemampuan menganalisis faktor-faktor konflik sosial dalam masyarakat dalam upaya menumbuhkan  pembelajaran berbasis kompetensi dan menghasilkan produk dalam memperbaiki mutu pendidikan utamanya pada mata pelajaran IPS. Sangat perlu kiranya dilakukan perbaikan cara pembelajaran berbasis proyek. Salah satunya adalah penerapan model pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran  Project-Based Learning.
Pembelajaran berbasis proyek memiliki potensi yang amat besar untuk membuat pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermanfaat bagi peserta didik (Santyasa, 2006:12). Dalam pembelajaran berbasis proyek, peserta didik terdorong lebih aktif dalam belajar. Guru hanya sebagai fasilitator, mengevaluasi produk hasil kerja peserta didik yang ditampilkan dalam hasil proyek yang dikerjakan, sehingga dengan penerapan model pembelajaran berbasis proyek yang menghasilkan produk nyata dalam bentuk laporan diharapkan siswa mampu berfikir kritis dalam menganalisa faktor konflik sosial  yang ada dalam masyarakat.

1.2  Identifikasi Masalah

            Dari penjelasan latar belakang di atas dapat diidentifikasi adanya beberapa permasalahan dalam praktik pembelajaran IPS pada siswa kelas X Multimedia 3SMK Negeri 1 Sukasada, antara lain sebagai berikut.
1.    Pembelajaran IPS pada siswa kelas X Multimedia 3 SMK Negeri 1 Sukasada kurang powerful berbasis kontruktivisme, dalam arti pembelajaran IPS kurang bermakna, kurang terintegrasi, kurang berbasis penalaran nilai, kurang membuat siswa aktif, dan kurang menantang siswa untuk membangun pengetahuan mereka sendiri secara bermakna (lihat NCSS, 2000: 4-5). Ini terjadi karena pembejaran cenderung terjadi secara konvensional yang menekankan penggunaan metode ekspositori, dimana guru memberikan siswa pengetahuan IPS yang sudah jadi berupa fakta/data, peristiwa, konsep, pengertian, dan beberapa proposisi yang bisa dihafal oleh siswa.
2.    Dengan pembelajaran IPS yang bersifat konvensional seperti itu siswa cenderung belajar IPS secara pasif, yaitu: duduk, mendengarkan ceramah guru, mencatat point-point penting, menghafalkan isi catatan dan isi buku ajar sebisa mungkin, dan mengikuti tes objektif pilihan ganda dan atau tes isian singkat. Belajar IPS seperti itu sering memberikan kesan kepada siswa bahwa belajar dan mata pelajaran IPS adalah mata pelajaran hafalan. Siswa tidak berani berbeda dengan konsep, pengertian, dan fakta-fakta yang ada dalam buku atau yang diberikan oleh guru. Belajar IPS seperti ini membuat siswa cepat lupa dengan apa yang telah dihafalkannya karena materi pelajaran yang dihafalkan tidak utuh dan tidak bermakna, membuat siswa cepat bosan dan malas membaca buku atau catatan, membuat siswa kurang memiliki rasa percaya diri, dan tanggapan siswa terhadap pembelajaran IPS cenderung negatif.
3.    Akibat praktik belajar dan pembelajaran IPS yang konvensional tersebut pada hasil belajar siswa adalah rendah dan kurang bermakna. Pengetahuan siswa tidak utuh dan artifisial; pengetahuan tingkat rendah (umumnya C1 dan C2 saja); bersifat hafalan; kurang membantu siswa bernalar secara analitis, kritis, dan kreatif; kurang memiliki penalaran nilai dan orientasi nilai yang baik; kurang memiliki keterampilan akademis dan sosial yang memadai; kurang memiliki rasa percaya diri dan konsep diri yang baik; kurang membangun komitmen nilai-nilai yang positif; dan akhirnya tidak membantu siswa membangun kompetensi intelektual, emosional, sosial, moral, dan spiritual yang utuh dan baik sebagaimana dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.
4.    Dalam kondisi praktik pembelajaran IPS, sikap dan tanggapan siswa terhadap pembelajaran IPS, serta hasil belajar IPS siswa yang rendah dan kurang bermakna seperti di atas, dengan tidak disadari, guru sesungguhnya membutuhkan untuk melakukan upaya kreatif dan inovatif untuk memperbaiki kondisi praktik pembelajaran IPS tersebut. Maka disepakatilah untuk menerapkan model pembelajaran IPS berbasis proyek. Penerapan model pembelajaran ini diyakini dapat meningkatkan kualitas pembelajaran IPS menjadi lebih powerful, dalam arti lebih bermakna bagi siswa, lebih terintegrasi, lebih berbasis nilai-nilai, dapat membuat siswa lebih aktif, dan menantang upaya belajar siswa. Jika kualitas pembelajaran ini bisa lebih ditingkatkan, maka sikap dan tanggapan siswa terhadap pembelajaran IPS diharapkan menjadi lebih positif, dan pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa baik yang menyangkut aspek atau domain pengetahuan, nilai-nilai dan sikap, keterampilan akademis dan sosial, rasa percaya diri dan konsep diri yang positif, komitmen yang lebih kuat, dan kompetensi sosial yang lebih memadai (Sukadi, 2006).

1.3  Pembatasan Masalah

            Masalah yang dapat diidentifikasi dari latar belakang di atas ternyata cukup kompleks. Tidak mungkin seluruh permasalahan yang dapat diidentifikasi dapat diteliti secara utuh dan komprehensif dalam penelitian ini. Di samping karena faktor keterbatasan sumber daya, peneliti berpikir lebih baik untuk memfokuskan penelitian ini pada beberapa masalah yang lebih sederhana sehingga peneliti dapat lebih fokus. Penelitian yang lebih fokus akan dapat lebih meningkatkan validitas internalnya. Karena itu, dalam penelitian ini hanya diteliti beberapa aspek saja dari masalah-masalah yang telah diidentifikasi di atas, antara lain sebagai berikut.
1.    Penerapan model pembelajaran berbasis proyek (Project-based learning) pada pembelajaran IPS di kelas X Multimedia 3 SMK Negeri 1 Sukasada. Pemilihan model pembelajaran ini didasari oleh keyakinan teoretis dan dukungan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis proyek ini dalam pembelajaran IPS dapat memberi pengalaman belajar IPS yang lebih powerful (bermakna, terintegrasi, berbasis nilai, membuat siswa aktif, dan menantang) kepada siswa.
2.    Tanggapan siswa terhadap pembelajaran IPS dengan menerapkan model pembelajaran berbasis proyek. Pemilihan variabel ini didasari oleh pertimbangan dan harapan bahwa dengan meningkatkan kualitas pembelajaran IPS melalui penerapan model pembelajaran berbasis proyek diharapkan sikap dan tanggapan siswa terhadap pembelajaran IPS menjadi lebih positif. Tanggapan siswa yang lebih positif terhadap pembelajaran IPS tentu akan menjadikan pembelajaran IPS lebih membuat siswa aktif dan memberikan pengalaman belajar IPS yang lebih menyenangkan kepada siswa.
3.    Hasil belajar IPS siswa terutama pada aspek kemampuan berpikir kritis. Pemilihan variabel ini didasarkan atas pertimbangan dan harapan untuk meningkat kualitas hasil belajar siswa yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan tingkat rendah seperti yang selama ini dilakukan umum oleh guru-guru IPS di kelas. Dengan memfokuskan penelitian ini pada kemampuan berpikir kritis sebagai konsekuensi dari penerapan model pembelajaran IPS berbasis proyek, diharapkan wawasan guru IPS di SMK Negeri 1 Sukasada akan meningkat baik dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran IPS maupun dalam upaya meningkatkan kualitas hasil belajar IPS siswa yang lebih bermakna.

1.4  Rumusan Masalah

Sepertiyang sudah dipaparkan pada bagian pembatasan masalah, maka rumusan masalah penelitian ini dapat disampaikan sebagai berikut.
1.    Apakah penerapan model Pembelajaran Project-Based Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran IPS pada siswa kelas X Multimedia 3 SMK Negeri 1 Sukasada?
2.    Bagaimanakah tanggapan siswa terhadap penerapan model pembelajaran   project-based  Learning pada siswa kelas X Multimedia 3 SMK Negeri 1 Sukasada?

1.5  Tujuan Penelitian

     Berdasarkan rumusan masalah diatas maka dapat disampaikan bahwa tujuan penelitian adalah sebagai berikut.
1.    Meningkatkan kemampuan berfikir kritis siswamelalui penerapan model pembelajaran  Project-Based Learning pada siswa kelas X Multimedia 3 SMK Negeri 1 Sukasada.
2.    Mendeskripsikan tanggapan siswaterhadap penerapan  model pembelajaran Project-Based Learning pada siswa kelas X Multimedia 3 SMK Negeri 1 Sukasada.

1.6  Manfaat  Penelitian

Manfaat penelitian secara umum dapat dipilah menjadi dua kategori, yaitu manfaat praktis yang memberikan dampak langsung kepada komponen pembelajaran dan manfaat teoretis yang memiliki dampak jangka panjang dalam pengembangan teori pembelajaran.
2      Secara Teoretis
Secara teoretis, manfaat penelitian yang diharapkan sebagai berikut: 1) Memberikan sumbangan pengetahuan tentang implementasi model pembelajaranberbasis proyek berbantuan media power point dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran IPS pada siswa kelas X Multimedia 3 SMK Negeri 1 Sukasada; 2) Bagi peneliti lain hasil penelitian ini dapat dipergunakan sebagai pembanding dalam  melaksanakan penelitian yang  relevan bila melaksanakan kajian penelitian khususnya dalam  menggunakan model pembelajaran  berbasis proyek.
3      Secara Praktis
a.       Bagi siswa, menambah wawasan agar mempertajam daya analisis sehingga memiliki kemampuan berpikir kritis.
b.      Bagi Guru, sebagai bahan masukan, pedoman yang bersifat alternatif dalam menerapkan model pembelajaran sesuai dengan karakteristik siswa dan tuntutan SK dan KD sekaligus meningkatkan kinerja guru khususnya guru yang mengajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  di SMK Negeri 1 Sukasada.
c.       Bagi pemimpin sekolah, diharapkan dapat menjadi bahan informasi dan referensi agar mengetahui dan peka terhadap masalah-masalah pembelajaran di kelas sekaligus mendorong guru lain untuk aktif melakukan inovasi dalam pembelajaran agar lebih inofatif  khususnya dalam menerapkan model pembelajaran Project-Base Learning.

1.7  Definisi Operasional

1.      Project-Base Learning  ( PjBL) adalah model pembelajaran inovatif  yang berfokus pada konsep dan prinsip inti sebuah disiplin memfasiliasi, pemecahan masalah dan tugas-tugas bermakna lainnya dan menghasilkan produk nyata.
2.      Berfikir kritis adalah suatu aktifitas mental yang membantu memformulasikan atau memecahkan suatu masalah, membuat suatu keputusan atau memenuhi hasrat keingintahuan.
    



BAB  II
LANDASAN TEORI DAN KAJIAN PUSTAKA

           

2.1  Karakteristik Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial

Ilmu Pengetahuan Sosial pada hakikatnya adalah sebuah program pendidikan/pembelajaran di sekolah yang diberikan dari jenjang pendidikan dasar hingga jenjang pendidikan menengah yang memberdayakan siswa untuk melakukan studi sosial secara terintegrasi mengenai hubungan manusia dengan sesamanya dalam kehidupan masyarakat dan dengan lingkungannya, sehingga siswa diharapkan berkembang kompetensi sosialnya (Hasan, 2010). Pendidikan IPS, karena itu, mengkajisecara terintegrasi hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Lingkungan masyarakat dimana anak didik tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari masyarakat dihadapkan pada berbagai permasalahan yang ada dan terjadi di lingkungan sekitarnya. Pendidikan IPS berusaha membantu peserta didik dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi sehingga akan menjadikannya semakin mengerti dan memahami lingkungan sosial masyarakatnya (Kosasih, 1994).
Pada dasarnya, tujuan dari pendidikan IPS adalah untuk mendidik dan memberi bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan diri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan lingkungannya, serta berbagai bekal siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Berdasarkan pengertian dan tujuan dari pendidikan IPS, tampaknya dibutuhkan suatu pola pembelajaran yang mampu menjembatani tercapainya tujuan tersebut. Kemampuan dan keterampilan guru dalam memilih dan menggunakan berbagai model, metode dan strategi pembelajaran senantiasa terus ditingkatkan (Kosasih, 1994), agar pembelajaranIPS benar-benar mampu mengondisikan upaya pembekalan kemampuan dan keterampilan dasar bagi peserta didik untuk menjadi manusia dan warga negara yang baik. Hal ini dikarenakan pengondisian iklim belajar merupakan aspek penting bagi tercapainya tujuan pendidikan IPS (Azis Wahab, 1986).
Pola pembelajaranIPS menekankan pada unsur pendidikan dan pembekalan pada peserta didik. Penekanan pembelajarannya bukan sebatas pada upaya mencekoki atau menjejali peserta didik dengan sejumlah konsep yang bersifat hafalan belaka; melainkan terletak pada upaya agar mereka mampu menjadikan apa yang telah dipelajarinya sebagai bekal dalam memahami dan ikut serta dalam melakoni kehidupan masyarakat lingkungannya, serta sebagai bekal bagi dirinya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Di sinilah sebenarnya penekanan misi dari pendidikan IPS. Oleh karena itu, rancangan pembelajaran oleh guru hendaknya diarahkan dan difokuskan sesuai dengan kondisi dan perkembangan potensi siswa agar pembelajaran yang dilakukan benar-benar berguna dan bermanfaat bagi siswa (Kosasih, 1994; Hasan, 1996). Tujuan utama Ilmu Pengetahuan Sosial ialah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat.Tujuan tersebut dapat dicapai manakala program-program pembelajaran IPS di sekolah diorganisasikan secara baik. Dari rumusan tujuan tersebut dapat dirinci sebagai berikut.1) Memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau lingkungannya, melalui pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat.2)Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan metode yang diadaptasi dari ilmu-ilmu sosial yang kemudian dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial.3)Mampu menggunakan model-model dan proses berpikir serta membuat keputusan untuk menyelesaikan isu dan masalah yang berkembang di masyarakat.4) Menaruh perhatian terhadap isu-isu dan masalah-masalah sosial, serta mampu membuat analisis yang kritis, selanjutnya mampu mengambil tindakan yang tepat.5) Mampu mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu membangun diri sendiri agar survive yang kemudian bertanggung jawab membangun masyarakat dan pengembangan keterampilan pembuatan keputusan.6)Memotivasi seseorang untuk bertindak berdasarkan moral.7) Fasilitator di dalam suatu lingkungan yang terbuka dan tidak bersifat menghakimi.8) Menyiapkan siswa menjadi warga negara yang baik dalam kehidupannya  (to prepare students to be well-functioning citizens in a democratic society) dan mengembangkan kemampuan siswa mengunakan penalaran dalam mengambil keputusan pada setiap persoalan yang dihadapinya. 9) Menekankan perasaan, emosi, dan derajat penerimaan atau penolakan siswa terhadap materi Pembelajaran IPS yang diberikan (Mutakin, 1998).
Kurikulum pendidikan IPS, sebagaimana yang dinyatakan oleh Hasan (1990), merupakan fusi dari berbagai disiplin ilmu. Martorella (1987) menyatakan bahwa pembelajaran Pendidikan IPS lebih menekankan pada aspek “pendidikan” dari pada “transfer konsep”, karena dalam pembelajaranIPS peserta didik diharapkan memperoleh pemahaman terhadap sejumlah konsep dan mengembangkan serta melatih sikap, nilai, moral, dan keterampilannya berdasarkan konsep yang telah dimilikinya. Dengan demikian, pembelajaran IPS harus diformulasikan pada aspek kependidikannya.
Prinsip Pelaksanaan Kurikulum IPS untuk SMK meliputi, sebagai berikut.1) Didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya.2) Menegakkan pilar belajar yang relevan.3) Memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan.4) Dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat.5) Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan beragam pendekatan dan sumber.6) Mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal. 7) Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran muatan lokal dan pengembangan diri (Depdiknas, 2004).
Mata pelajaran IPS SMK bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut. 1) Memahami konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya. 2) Berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan social. 3) Berkomitmen terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan. 4) Berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk di tingkat lokal, nasional, dan global.
Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar Penilaian(Sudira, 2006).
Menganalisis faktor konflik sosial dalam masyarakat merupakan salah satu kopetensi dasar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang diajarkan dikelas X semester genap, dimana proses pembelajarannya ini bertujuan nantinya  siswa mampu berpikir logis, kritis, rasa ingin tahu, memecahkan masalah dengan melihat, mengkaji, menemukan masalah baik secara individu maupun secara kelompok, sehingga nantinya mampu menganalisis faktor  konflik sosial  yang ada  dalam masyarakat.

2.2  Model Pembelajaran Project-Base Learning (PjBL)

2.2.1        Pengertian Project-Base Learning

Menurut Santyasa (2011: 164-179) Project-Base Learning (PjBL) adalah model pembelajaran inovatif yang berfokus pada konsep dan prinsip inti sebuah disiplin, memfasilitasi pembelajar  untuk berinvestigasi, pemecahan masalah, dan tugas-tugas bermakna lainnya dan menghasilkan produk nyata. Sebagai muara dari pembelajaran model ini selalu menghasilkan produk nyata. Produk nyata tersebut dihasilkan dari proses elaborasi yang intensif, diskusi interaktif  dan revisi secara komprehensif. Oleh sebab itu produk dari  Project-Base Learning merupakan hasil karya terbaik bagi pembelajar,  untuk mengakses hasil karya terbaik pembelajar tersebut  dibutuhkan asesmen otentik dan portofolio. Portofolio  merefleksikan apa yang telah dipelajari oleh pembelajar, bagaimana mereka menganalisis, mensintensis, memecahkan masalah dan menciptakan gagasan baru, dan bagaimana mereka mendesain  dan mengembangkan produk-produk yang bermanfaat. Portofolio juga menunjukkan bagaimana pembelajar berinteraksi  secara intelektual,  emosional,sosial, moral, dan spiritual dengan yang lain.
Proses pembelajaran berbasis proyek merupakan proses pembelajaran untuk memantapkan pengalaman yang belum mantap, memperluas pengetahuan yang belum luas, dan menyempurnakan pengetahuan yang belum sempurna  yang diperoleh dalam pengalaman  sebelumnya agar menjadi pengetahuan yang mantap, berwawasan luas, dan sempurna setelah mengakhiri pembelajaran. Ungkapan ini sesuai dengan konsepsinya Marzano (1992) bahwa belajar melalui pengalamannyatadapat memperluas dan menyempurnakan  pengetahuan. Pengetahuan yang telah mantap, luas dan sempurna tersebut direpresentasikan oleh produk nyata yang standar.
MenurutShields(2005), PjBL adalah menggabungkan metode yang meliputi pembelajaran berbasis masalah,kooperatif learning, pembelajaran konstruktif, pembelajaran aktif dan teori manajemen proyek.Mengembangkan kerja know-how harus menjadi tujuan utama dari setiap pembelajaran berbasis proyek.Shields mengidentifikasi lima bidang kompetensi bahwa proyek harus membahas: 1)kemampuan untuk mengidentifikasi,mengorganisir, merencanakan dan mengalokasikan sumber daya;2) keterampilan interpersonal;3) kemampuan untuk memperoleh dan menggunakaninformasi;4) kemampuan untuk memahami keterkaitan yang kompleks; dan 5) kemampuan untuk bekerja.
Project-Base Learning (PjBL) dapat diterapkan untuk semua bidang studi dengan mengikuti lima langkah utama pembelajaran, yaitu: 1) menetapkan tema proyek,2) menetapkan konteks belajar,3) merencanakan aktivitas-aktivitas, 4) memeroses aktivitas-aktivitas,  dan  5)  penerapan aktivitas-aktivitas untuk menyelesaikan proyek.Pembelajaran Berbasiskan Proyek berasal dari gagasan John Dewey tentang konsep “Learning by Doing” yakni proses perolehan hasil belajar dengan mengerjakan tindakan-tindakan tertentu sesuai dengan tujuannya, terutama penguasaan anak tentang bagaimana melakukan sesuatu pekerjaanyang terdiri atas serangkaian tingkah laku untuk mencapai suatu tujuan.
Project Based Learning merupakan sebuah model pembelajaran yang sudah banyak dikembangkan di negara-negara maju seperti Amerika Serikat. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, Project Based Learning bermakna sebagai pembelajaran berbasis proyek. Definisi secara lebih komperehensif tentang Project Based Learning menurut The George Lucas Educational Foundation (2005) adalah sebagai berikut :
1) Project-based learning is curriculum fueled and standards based. Project Based Learning merupakan model pembelajaran yang menghendaki adanya standar isi dalam kurikulumnya. Melalui Project Based Learning, proses inkuiri dimulai dengan memunculkan pertanyaan penuntun (aguiding question) dan membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum. Pada saat pertanyaan terjawab, secara langsung peserta didik dapat melihat berbagai elemen mayor sekaligus berbagai prinsip dalam sebuah displin yang sedang dikajinya (The George Lucas Educational Foundation: 2005).
2) Project-based  Learning adalah model pembelajaranyang menuntut pengajar dan atau peserta didik mengembangkan pertanyaan penuntun (a guiding question). Mengingat bahwa masing-masing peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda, maka Project Based Learning memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya, dan melakukan eksperimen secara kolaboratif. Hal ini memungkinkan setiap peserta didik pada akhirnya mampu menjawab pertanyaan penuntun (The George Lucas Educational Foundation: 2005).
3) Project-based learning asks students to investigate issues and topics addressing real-world problems while integrating subjects across the curriculum. Project Based Leraning merupakan model pembelajaran yang menuntut peserta didik membuat “jembatan” yang menghubungkan antar berbagai subjek materi. Melalui jalan ini, peserta didik dapat melihat pengetahuan secara holistik. Lebih daripada itu, Project Based Learning merupakan investigasimendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik (The George Lucas Educational Foundation, 2005).
4) Project-based learning is a method that fosters abstract, intellectual tasks to explore complex issues. Project Based Learning merupakan model pembelajaran yang memperhatikan pemahaman. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi dan mensintesis informasi melalui carayang bermakna. (The George Lucas Educational Foundation, 2005).
Model Pembelajaran Berbasis Proyek didukung oleh teori belajar konstruktivisme yang menyatakan bahwa struktur dasar suatu kegiatan terdiri atas tujuan yang ingin dicapai sebagai subyek yang berada di dalam konteks suatu masyarakat di mana pekerjaan itu dilakukan dengan perantaraan alat-alat, peraturan kerja, pembagian tugas dalam penerapan di kelas bertumpu pada kegiatan aktif dalam bentuk melakukan suatu (doing) daripada kegiatan pasif “menerima” transfer pengetahuan dari pengajar.
Pembelajaran berbasis proyek memiliki potensi yang besar untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna bagi siswa (Gear,1998). Sedangkan menurut Buck Institute for Education (1999),pembelajaran berbasis proyek memiliki karakteristik sebagai berikut.1) Pelajar membuat keputusan dan membuat kerangka kerja.2) Terdapat masalah yang pemecahannya tidak ditentukan sebelumnya.3)  Pelajar merancang proses untuk mencapai hasil.4)  Pelajar bertanggungjawab untuk mendapatkan dan mengelola informasi yang dikumpulkan.5Melakukan evaluasi secara kontinyu.6) Pelajar secara teratur melihat kembali apa yang mereka kerjakan.7Hasil akhir berupa produk dan dievalusi kualitasnya. 8Kelas memiliki atmosfer yang memberi toleransi kesalahan dan perubahan.
 Menurut Thomas (2000), pembelajaran berbasis proyek memiliki lima prinsip, yaitu sebagai berikut.Pertama, keterpusatan (centrality) proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek adalah pusat atau inti kurikulum, bukan pelengkap kurikulum. Di dalam Pembelajaran Berbasis Proyek, proyek adalah strategi pembelajaran; pelajar mengalami dan belajar konsep-konsep inti suatu disiplin ilmu melalui proyek. Ada kerja proyek yang mengikuti pembelajaran tradisional dengan cara proyek tersebut memberi ilustrasi, contoh, praktik tambahan, atau aplikasi praktik yang diajarkan sebelumnya dengan maksud lain. Akan tetapi, menurut kriteria di atas, aplikasi proyek tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai Pembelajaran Berbasis Proyek. Kegiatan proyek yang dimaksudkan untuk pengayaan di luar kurikulum juga tidak termasuk Pembelajaran Berbasis Proyek.Kedua,  berfokus pada pertanyaan atau masalah proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek adalah terfokus pada pertanyaan atau masalah, yang mendorong pelajar menjalani (dengan kerja keras) konsep-konsep dan prinsip-prinsip inti atau pokok dari disiplin. Kriteria ini sangat halus dan agak susah diraba. Definisi proyek (bagi pelajar) harus dibuat sedemikian rupa agar terjalin hubungan antara aktivitas dan pengetahuan konseptual yang melatarinya yang diharapkan dapat berkembang menjadi lebih luas dan mendalam (Baron et al, 1998).Biasanya dilakukan dengan pengajuan pertanyaan-pertanyaan atau ill-defined problem (Thomas, 2000). Proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek mungkin dibangun di sekitar unit tematik, atau gabungan (intersection) topik-topik dari dua atau lebih disiplin, tetapi itu belum sepenuhnya dapat dikatakan sebuah proyek. Pertanyaan-pertanyaan yang mengejar pelajar, sepadan dengan aktivitas, produk, dan unjuk kerja yang mengisi waktu mereka, harus digubah (orchestrated) dalam tugas yang bertujuan intelektual (Blumenfeld, 1991).Ketiga, investigasi konstruktif atau desain proyek melibatkan pelajar dalam investigasi konstruktif. Investigasi mungkin berupa proses desain, pengambilan keputusan, penemuan masalah, pemecahan masalah, diskoveri, atau proses pembangunan model. Akan tetapi, agar dapat disebut proyek memenuhi kriteria Pembelajaran Berbasis Proyek, aktivitas inti dari proyek itu harus meliputi transformasi dan konstruksi pengetahuan (dengan pengertian: pemahaman baru, atau keterampilan baru) pada pihak pebelajar (Bereiter & Scardamalia, 1999). Jika pusat atau inti kegiatan proyek tidak menyajikan “tingkat kesulitan” bagi anak, atau dapat dilakukan dengan penerapan informasi atau keterampilan yang siap dipelajari, proyek yang dimaksud adalah tak lebih dari sebuah latihan, dan bukan proyek Pembelajaran Berbasis Proyek yang dimaksud. Membersihkan peralatan laboratorium mungkin sebuah proyek, akan tetapi mungkin bukan proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek. Keempat, otonomi proyek mendorong pelajar sampai pada tingkat yang signifikan. Proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek bukanlah ciptaan guru, tertuliskan dalam naskahatau terpaketkan. Latihan laboratorium bukanlah contoh Pembelajaran Berbasis Proyek, kecuali jika berfokus pada masalah dan merupakan inti pada kurikulum. Proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek tidak berakhir pada hasil yang telah ditetapkan sebelumnya atau mengambil jalur (prosedur) yang telah ditetapkan sebelumnya. Proyek Pembelajaran Berbasis Proyek lebih mengutamakan otonomi, pilihan, waktu kerja yang tidak bersifat rigid, dan tanggung jawab pelajar, daripada proyek trandisional dan pembelajaran tradisional. Kelima,realisme proyek adalah realistik. Karakteristik proyek memberikan keontentikan pada pelajar. Karakteristik ini boleh jadi meliputi topik, tugas, peranan yang dimainkan pelajar, konteks dimana kerja proyek dilakukan, kolaborator yang bekerja dengan pelajar dalam proyek, produk yang dihasilkan, audien bagi produk-produk proyek, atau kriteria di mana produk-produk atau unjuk kerja dinilai. Pembelajaran Berbasis Proyek melibatkan tantangan-tantangan kehidupan nyata, berfokus pada pertanyaan atau masalah otentik (bukan simulatif), dan pemecahannya berpotensi untuk diterapkan di lapangan yang sesungguhnya.
Menurut Santyasa (2011:170) sebagai muara dari pembelajaran model PJBL selalu menghasilkan produk nyata, produk nyata tersebut dihasilkan dari proses elaborasi yang itensif, diskusi, interaktif, dan revisi secara komprehensif.Oleh sebab itu produk dari PjBL merupakan hasil karya terbaik bagi pembelajar, untuk mengases hasil karya terbaik pembelajar tersebut  dibutuhkan asesmen otentik dan portofolio.

2.2.2        Karakteristik dan langkah-Langkah Project-Base Learning

Menurut Santyasa (2011:166-170) pembelajaran berbasis proyek memerlukan beberapa tahapan dan beberapa durasi tidak sekedar merupakan rangkaian pertemuan kelas serta belajar kelompok kolaboratif. Proyek memfokuskan pada pengembangan produk atau unjuk kerja, yang secara umum siswa melakukan kegiatan: mengorganisasi kegiatan belajar kelompok mereka, melakukan penkajian atau penelitian, memecahkan masalah dan mensintesis informasi. Proyek selain dilakukan secara kolaboratif  juga harus bersifat inovatif, berfokus pada pemecahan masalah yang berhubungan dengan kehidupan siswa.
Ada empat karakteristik pembelajaran berbasis proyek, yaitu isi, kondisi, aktivitas dan hasil. Diskripsi karakteristik tersebut disajikan pada Tabel 1.1
Tabel 1.1 Karakteristik utama Project-Base Learning

I.     ISI: memuat gagasan yang orisinil
1.    Masalah kompleks
2.    Siswa menemukan hubungan antar gagasan yang diajukan
3.    Siswa berhadapan pada masalah yang ill-defined
4.    Pertanyaan cenderung mempersoalkan masalah dunia nyata
II.  KONDISI: mengutamakan otonomi siswa
1.    Melakukan inquiri dalam konteks masyarakat
2.    Siwa mampu mengelola waktu secara efektif dan efesien
3.    Siswa belajar penuh dengan kontrol diri
4.    Mensimulasikan kerja secara professional
III.    AKTIVITAS: investigasi kelompok kolaboratif
1.    Siswa berinvestigasi selama periode tertentu
2.    Siswa melakukan pemecahan masalah tertentu
3.    Siswa memformulasikan hubungan antar gagasan orisinilnya untuk mengkontruksikan ketrampilan baru
4.    Siswa menggunakan teknologi otentik dalam memecahkan masalah
5.    Siswa melakukan umpan balik mengenai gagasan mereka berdasarkan respon ahli atau dari hasil tes
IV.    HASIL: produk nyata
1.    Siswa menunjukan produk nyata berdasarkan hasil investigasi mereka
2.    Siswa melakukan evaluasi diri
3.    Siswa responsif terhadap segala implikasi dari kompetensi yang dimilikinya
4.    Siswa mendemonstrasikan kopetensi sosial, managemen pribadi, dan regulasi belajarnya

Project-Base Learning dapat diterapkan untuk semua bidang studi. Implementasi model ini mengikuti lima langkah utama. Sebagai berikut.
Pertama, menetapkan tema proyek. Tema proyek hendaknya memenuhi indikator-indikator:a) memuat gagasan umum dan orisinil, b) penting dan menarik, c) mendeskripsikan masalah kompleks, d) mencerminkan hubungan berbagai gagasan, e) mengutamakan pemecahan masalah yang ill defined.
Kedua, menetapkan konteks belajar. Konteks belajar hendaknya memenuhi indicator-indikator:a) pertanyaan-pertanyaan proyek mempersoalkan dunia nyata, b) menggunakan otonomi siswa, c) melakukan inquiri dalam konteks masyarakat, d) siswa mampu mengelola waktu secara efektif dan efesien, e) siswa belajar penuh dengan kontrol diri, f) mensimulasikan kerja secara professional.
Ketiga, merencanakan aktifitas-aktifitas. Pengalaman belajar terkait dengan merencanakan proyek adalah:a) membaca, b) meneliti, c) obserfasi, d) interviu, e) merekam, f) mengunjungi obyek yang berkaitan dengan proyek, dan g) akses internet.
Keempat, memeroses aktivitas-aktivitas. Indikator memeroses aktivitas adalah:a) membuat sketsa, b) melukiskan analisa, c) menghitung, d) mengenerate, e) mengembangkan prototype.
Kelima, penerapan aktivitas-aktivitasuntuk menyelesaikan proyek. Langkah-langkah yang dilakukan adalah:a) mencoba mengerjakan proyek berdasarkan sketsa, b) menguji langkah-langkah yang telah dikerjakan dan hasil yang diperolah, c) mengevaluasi hasil yang telah diperoleh, d) merevisi hasil yang telah diperoleh, e) melakukan daur ulang proyek yang lain, f) mengklasifikasi hasil terbaik.


2.2.3        Project-Base Learning  dalam bentuk Project Citizen

Model pembelajaran berbasis proyek yang akan dilaksanakan dalam penelitian ini adalah model Project Citizen. Project citizen awalnya dikembangkan oleh Center For Civic Education (CCE) Calabasas California di Amerika Serikat sebagai model kurikulum for Civic Education dalam rangka meningkatkan kesadaran berdemokrasi peserta didik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Model ini kemudian disebarluaskan dan dikembangkan ke berbagai negara termasuk di Indonesia. Model ini pertama diadopsi di Indonesia oleh Center for Indonesian Civic Education (CICED, 2000) yang berkedudukan di Bandung. Terakhir, model ini diadopsi dan diadaptasi serta disebarluaskan oleh Center for Civic Education Indonesia (CCEI, 2003, CCEI, 2004) sebagai sebuah NGO asing bidang Pendidikan dan Fondation of Democracy (CCEI, 1996,CCEI, 1997).
Model Project Citizenyang mulanya dikembangkan di Amerika adalah sebagai a curricular program at the middle school through adult levels promoting competent and responsible participation with government at all levels. The program helps participants learn how to monitor and influence public policy while developing support for democratic values and principles, tolerance, and feelings of political efficacy.
Dokumen lain menyatakan bahwa
Project Citizen is a civic education program for middle, secondary, and post-secondary students and youth or adult groups. Project Citizen promotes competent and responsible participation in state, local, and federal government. It actively engages people in learning how to monitor and influence public policy. Participants work together as a class or extracurricular group to identify and study a public policy issue. The final product is a portfolio that may be presented before other classes, groups, community organizations, or policymakers
Lebih lanjut juga dinyatakan:
As a class project, students work together to identify and study a public policy issue, eventually developing an action plan for implementing their policy. Working in cooperative teams, the class learns to interact with their government through a five-step process that includes: identifying a public policy problem in their community, gathering and evaluating information on the problem, examining and evaluating solutions, selecting or developing a proposed public policy, and developing an action plan. Students' work is displayed in a class portfolio containing a display section and a documentation section. In a culminating activity the class presents its portfolio in a simulated legislative hearing, demonstrating their knowledge and understanding of how public policy is formulated. Classes may also be able to enter their portfolios in a local competition with other classe.

Berdasarkan  penjelasan tersebut bahwa project citizen adalah sebuah program kurikuler Pendidikan Kewarganegaraan untuk siswa remaja dan orang dewasa yang mendorong mereka belajar berbasis projek dalam rangka studi isu-isu kebijakan publik. Dalam program ini siswa belajar secara kooperatif pada level kelas untuk mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi, dan merumuskan usul-usul kebijakan publik yang diajukan kepada pejabat pemerintahan di berbagai level (lokal, kabupaten, propinsi, nasional, dan internasional). Hasil belajar mereka umumnya didokumentasikan dalam bentuk portofolio. Portofolio ini kemudian dipresentasikan dihadapan kelas lain, atau diajukan kepada pejabat pemerintahan terkait. Dalam portofolio terdokumentasi: masalah-masalah sosial kewarganegaraan atau isu-isu kebijakan publik yang dapat diidentifikasi, usul strategi pemecahan masalah, usulan rumusan kebijakan publik, dan rencana aksi. Untuk mendapatkan produk portofolio ini proses belajar yang dilakukan para siswa umumnya meliputi: mengidentifikasi masalah-masalah kebijakan publik; mengumpulkan, menganalisis, dan mengevaluasi informasi; mengkaji dan mengevaluasi berbagai alternatif pemecahan masalah kebijakan publik; mengevaluasi dan merumuskan usulan kebijakan publik yang terbaik; merumuskan action plan; mendokumentasikan produk belajar ke dalam portofolio; mempresentasikan portofolio dalam suatu showcase; dan melaksanakan tindakan partisipatif untuk mewujudkan lebijakan publik (CCEI, 2003,CCEI,  2004).
Di Indonesia model ini diadopsi dan diadaptasikan menjadi Praktik Belajar Kewarganegaraan-Kami Bangsa Indonesia (PBK-KBI) (CCEI, 2003,CCEI, 2004). PBK-KBI diadaptasi menjadi sebuah model pembelajaran terutama untuk pembelajaran PKn dan IPS, walaupun model ini sesungguhnya dapat diadaptasi dan diterapkan untuk seluruh mata pelajaran baik di tingkat sekolah maupun perguruan tinggi. PBK-KBI dalam pembelajaran PKn dan IPS adalah sebuah model pembelajaran yang memberdayakan siswa untuk learning democracy, in democracy, and for democracy (Winataputra, 2001). Di sini para siswa belajar mengembangkan pemahaman konseptual kehidupan berdemokrasi, membangun keyakinan dan komitmen hidup berdemokrasi, mengembangkan penalaran nilai dan sikap positif berdemokrasi, belajar membuat keputusan kebijakan yang demokratis, serta mengembangkan keterampilan-keterampilan sosial kewarganegaraan dalam kehidupan berdemokrasi di dalam masyarakat, berbangsa, dan bernegara (Sukadi, 2007).
Pembelajaran dalam PBK-KBI ini cenderung berbasis projek. Di sini siswa belajar dengan pendekatan konstruktivis dan berpusat pada siswa yang secara kelompok kelas kooperatif belajar menyelesaikan satu projek kewarganegaraan. Dalam projek kewarganegaraan ini siswa belajar diorientasikan pada isu-isu kebijakan publik dalam kehidupan berdemokrasi baik dalam tataran hidup bermasyarakat, berbangsa, maupun bernegara. Mula-mula siswa disiapkan kemampuan konseptualnya untuk memahami hakikat hidup berdemokrasi dalam hubungan antara warga negara dengan negara dan pemerintahannya. Kemudian siswa dibelajarkan untuk peka dan peduli terhadap berbagai persoalan hidup berdemokrasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Di sini siswa dididik dan dilatih untuk belajar mengidentifikasi dan merumuskan masalah-masalah sosial kewarganegaraan dalam perspektif isu-isu kebijkan publik. Dalam proses identifikasi ini siswa belajar mengenali fenomenanya; menganalisis kaitan permasalahannya; menganalisis konflik pihak-pihak, konflik kepentingan, dan konflik nilai yang terjadi dalam isu kebijakan publik; dan menganalisis serta mengevaluasi informasi yang terkait dengan faktor-faktor penyebab munculnya masalah (Sukadi, 2007).
Tahap berikutnya para siswa diberdayakan untuk belajar mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, mengkritisi sumber, menganalisis, dan mengevaluasi informasi tersebut yang diperlukan untuk pemecahan masalah. Semua proses belajar ini dilakukan secara kelompok kooperatif. Di sini siswa belajar tidak hanya secara pasif menerima informasi dari guru, melainkan harus secara aktif menggali berbagai sumber secara mandiri dengan prinsip belajar yang sistematis, kritis, sintesis, kontekstual, dan bermakna. Informasi yang diperoleh pada tahap ini akan menjadi landasan bagi siswa untuk menemukan berbagai alternatif pemecahan masalah atau isu kebijakan publik (Sukadi, 2007).  
Tahap belajar berikutnya adalah siswa belajar mengajukan berbagai alternatif pemecahan masalah. Di sini siswa belajar menggunakan informasi sebelumnya untuk mengajukan berbagai hipotesis alternatif dalam pemecahan masalah, membuat pertimbangan penalaran, melakukan klarifikasi nilai, dan menetapkan beberapa alternatif pemecahan masalah yang terbaik (Sukadi, 2007).Selanjutnya, atas dasar alternatif pemecahan masalah tersebut para siswa belajar merumuskan usul-usul kebijakan publik. Hal ini didahului dengan usaha mengkaji kebijakan publik yang telah ada (jika ada) relevan dengan alternatif pemecahan masalah yang diajukan. Jika tidak ada, maka siswa belajar menyusun usulan kebijakan publiknya secara mandiri dengan mencontoh bentuk-bentuk keputusan kebijakan publik yang telah ada sebelumnya.
Perlu diperhatikan bahwa setiap usulan kebijakan publik yang diajukan haruslah mengandung dukungan informasi dan bukti-bukti yang memadai. Setiap usulan haruslah mengandung usaha evaluasi informasi dan kajian klarifikasi nilai. Informasi yang dibutuhkan untuk setiap usulan kebijakan publik adalah: siapa pejabat yang relevan akan membuat keputusan kebijakan, apa isi substansi kebijakannya, siapa subjek sasaran yang terlibat dalam kebijakan tersebut, apa bentuk kewajiban yang harus dilakukan dan hak yang dapat diterima oleh subjek sasaran kebijakan tersebut, apa untung (termasuk manfaat) dan ruginya (termasuk modal sumber daya yang dibutuhkan) kebijakan tersebut ditinjau dari kepentingan pihak-pihak pro dan kontra, bagaimana kekuatan sosial politik dari pihak-pihak pro dan kontra, dan apa dukungan data/informasi dan bukti-bukti yang akan mendukung efektivitas kebijakan atau menandakan kegagalan implementasi kebijakan tersebut (Sukadi, 2007).
Langkah selanjutnya adalah membuat usulan rencana aksi (action plan). Di sini siswa belajar mengembangkan rencana tindakan untuk menggolkan usulan kebijakan publik yang diajukan kepada pihak-pihak pejabat terkait yang berwenang menetapkan kebijakan publik. Siswa belajar mengidentifikasi kelompok pro dan kontra, kalau ada, dan kekuatan-kekuatan sosial politik mereka. Merencanakan kegiatan untuk mereka. Merencanakan kegiatan legislative hearing untuk curah pendapat. Melakukan kegiatan sosialisasi ke masyarakat sasaran kebijakan publik. Menyiapkan sumber daya yang diperlukan untuk kegiatan-kegiatan tersebut, dan belajar memastikan bahwa setiap rencana tindakan akan memberikan hasil yang optimal (Sukadi, 2007).
Jika masalah sudah terpecahkan seperti di atas, langkah selanjutnya adalah siswa belajar mengembangkan portofolio kelas yang terdiri dari dua dokumen. Dokumen pertama berupa media presentasi. Contoh media presentasi tersebut adalah sebagai tertera di halaman berikut.
Dalam dokumen media presentasi tersebut terdapat empat bidang media yang dijadikan satu kesatuan. Bidang pertama mempresentasikan hasil identifikasi masalah kebijakan publik. Bidang kedua menggambarkan usul alternatif pemecahan masalah. Bidang ketiga menggambarkan rumusan usulan kebijakan publik yang ditawarkan. Dan bidang terakhir menggambarkan rencana aksi. Untuk keempat bidang ini masing-masing perlu diperhatikan unsur-unsurnya sebagai berikut: kelengkapan, kejelasan, informasi, hal-hal yang mendukung, dan grafisnya. Sedangkan   secara   keseluruhan   perlu   dipertimbangkan   unsur-unsur:   persuasif,kegunaan, koordinasi antar bidang, dan refleksinya (Sukadi, 2007).
Dokumen kedua adalah berupa dokumen lengkap yang mengandung seluruh informasi dan lampiran-lampiran data yang diperlukan yang menunjang dokumen media presentasi. Dokumen ini biasanya merupakan bentuk laporan lengkap dari kerja projek kelas.
Langkah berikutnya dalam episode PBK-KBI adalah seluruh kelompok siswa belajar mempresentasikan hasil kerja kelompoknya, baik di hadapan kelas lain, dewan juri yang dipilih jika dikompetisikan, atau di depan para pejabat terkait yang memiliki kepentingan dengan usul kebijakan dari siswa. Kegiatan presentasi ini diupayakan agar seluruh anggota kelas ikut mempresentasikan hasil karya mereka. Dalam kegiatan presentasi ini siswa diyakinkan dapat mempengaruhi orang lain untuk menerima usul kebijakan publik yang mereka telah kaji dan hasilkan, baik menggunakan bahasa verbal, bahasa tubuh, maupun menggunakan bahasa media presentasi. Ketika para siswa mempresentasikan karya portofolio mereka, tiap-tiap kelompok siswa dalam bidang masing-masing perlu memperhatikan aspek-aspek presentasi berikut, yaitu: signifikansinya, pemahamannya, argumentasinya, responsipnya, dan kerja sama kelompoknya. Sedangkan presentasi secara keseluruhan perlu memperhatikan aspek-aspek: persuasif, kegunaan, koordinasi antar bidang, dan refleksinya (Sukadi, 2007).
Langkah terakhir dalam kegiatan pembelajaran menggunakan model PBK-KBI adalah melakukan refleksi pengalaman belajar. Dengan dibimbing oleh guru, siswa baik secara sendiri-sendiri maupun dalam kelompok belajar menilai kembali uhasa belajar yang telah mereka lakukan, apa yang telah dicapai, apa kendala-kendalanya, dan berupaya melakukan berbagai penyempurnaan pada kegiatan-kegiatan berikutnya (Sukadi, 2007).
Menilai proses dan hasil belajar siswa dalam model pembelajaran PBK-KBI dapat dilakukan dengan model penilaian otentik, yang meliputi: penilaian kinerja, penilaian produk, penilaian projek, penilaian diri, dan penilaian portofolio.

2.3  Berpikir kritis

Berpikir kritis merupakan upaya pendalaman kesadaran serta kecerdasan membandingkan dari beberapa masalah yang sedang dan akan terjadi sehingga menghasilkan sebuah kesimpulan dan gagasan yang dapat memecahkan masalah tersebut. Setiap orang memiliki pola pikir yang berbeda. Akan tetapi, apabila setiap orang mampu berpikir secara kritis, masalah yang mereka hadapi tentu akan semakin sederhana dan mudah dicari solusinya. Oleh karena itu, manusia diberikan akal dan pikiran untuk senantiasa berpikir bagaimana menjadikan hidupnya lebih baik, dan mampu menjalani suatu masalah sepelik apapun yang diberikan kepadanya. Costa (1985) menggambarkan bahwa berpikir kritis adalah : “using basic thinking processes to analyze arguments and generate insight into particular meanings and interpretation; also known as directed thinking”.
Matindas (1996) menyatakan bahwa: “Berpikir kritis adalah aktivitas mental yang dilakukan untuk mengevaluasi kebenaran sebuah pernyataan. Umumnya evaluasi berakhir dengan putusan untuk menerima, menyangkal, atau meragukan kebenaran pernyataan yang bersangkutan”.
Ruggiero (1998) mengartikan berpikir sebagai suatu aktivitas mental yang membantu memformulasikan atau memecahkan suatu masalah, membuat suatu keputusan atau memenuhihasrat keingintahuan (fulfill a desire to understand).Pendapat ini menunjukan bahwa ketika seseorang menemukan masalah dan ingin memecahkan masalah tersebut atau ingin memahami sesuatu, maka dia akan melakukan  suatu aktivitas berpikir.
Pembelajaran kolaboratif melalui diskusi kelompok kecil juga direkomendasikan sebagai strategi yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis (Resnick, 1990; Rimiene, 2002; Gokhale, 2005). Dengan berdiskusi siswa mendapat kesempatan untuk mengklarifikasi pemahamannya dan mengevaluasi pemahaman siswa lain, mengobservasi strategi berpikir dari orang lain untuk dijadikan panutan, membantu siswa lain yang kurang untuk membangun pemahaman, meningkatkan motivasi, serta membentuk sikap yang diperlukan seperti menerima kritik dan menyampaikan kritik dengan cara yang santun.
Johnsan (2002) memberikan contoh bahwa keterampilan berpikir kritis dan keterampilan berpikir kreatif beserta kerangka berpikirnya adalah suatu representasi dari proses kognisi tertentu yang dibuat dalam langkah-langkah spesifik dan digunakan untuk mendukung proses berpikir. Kerangka berpikir tersebut digunakan sebagai petunjuk berpikir bagi siswa ketika mereka mempelajari suatu keterampilan berpikir. Siswa diharapkan dapat menentukan solusi atau jawaban dari masalah tersebut. Untuk membuktikan bahwa siswa  dapat menunjukkan kebenaran dalam masyarakat dan menyelesaikan masalah, siswa memerlukan alur pemikiran dengan kemampuan berpikir kritis.
Menurut Ennis (Hassoubah, 2004: 87), seseorang yang sedang berpikir kritis memiliki kecendrungan-kecendrungan, antara lain: 1) mencari pernyataan yang jelas dari setiap pertanyaan, 2) mencari alasan, 3) berusaha mencari informasi dengan baik, 4) memakai sumber yang memiliki kredibilitas  dan menyebutkanya, 5) memperhatikan situasi dan kondisi secara keseluruhan, 6) berusaha tetap relevan dengan ide utama, 7) mengingat kepentingan yang asli dan mendasar, 8) mencari alternatif,9) bersikap dan berpikir terbuka, 10) mengambil posisi ketika ada bukti yang cukup melakukan sesuatu,  11) mencari penjelasan sebanyak mungkin apabila memungkinkan, 12) bersikap secara sistematis dan teratur dengan bagian-bagian dari keseluruhan masalah, dan 13) peka terhadap tingkat keilmuan dan kehahlian orang lain.  
Dari beberapa pandangan diatas maka dapat disimpulkanbeberapa ciri berpikir kritis antara lain: 1)menyelesaikan suatu masalah dengan tujuan tertentu, 2) menganalisis, menggeneralisasikan, mengorganisasikan ide berdasarkan fakta/informasi yang ada, dan 3) menarik kesimpulan dalam menyelesaikan masalah tersebut secara sistematis dengan argumen yang benar.
Teori berpikir kritis yang peneliti pergunakan adalah teori menurut Ennis yang relevan dengan  tujuan pembelajaran ilmu pengetahuan sosial dimana siswa diharapkan mampu berpikir logis dan kritis,memiliki rasa ingin tahu, mampu memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial dimasyarakat

2.4  Kajian Hasil Penelitian yang relevan

Sukadi (2006) melaksanakan penelitian tentang pendidikan IPS sebagai rekontruksi pengalaman budaya berbasis ideologi Tri Hita Karana (Studi Etnografi tentang Pengaruh Masyarakat terhadap Program Pendidikan IPS pada SMU Negeri 1 Ubud, Bali). Hasil penelitian menunjukkan  bahwa konteks sosial budaya masyarakat Bali dalam lingkup kehidupan masyarakat lokal, lingkup kehidupan berbangsa, dan lingkup kehidupan pariwisata global memberikan landasan dalam pengembangan visi, misi, dan pelaksanaan program Pendidikan IPS di SMU Negeri Ubud berbasis idelogi Tri Hita Karana. Ini menunjukkan bahwa konteks sosial budaya masyarakat Bali memberikan basis bagi proses reproduksi budaya dalam penyelenggaraan program Pendidikan IPS yang lebih dimaknai guru-guru dan siswa sebagai proses pemberdayaan peserta didik yang memungkinkan mereka memiliki dan mengembangkan pengetahuan dan wawasan, nilai-nilai dan sikap, serta keterampilan sosial secara partisipatif dalam pembelajaran terhadap kehidupan sosial budaya lokal, nasional, dan global.
Chang dan Kou dan You (2012)melaksanakan  penelitian dengan menggunakanpendekataninstruksionaldan simulasidua-tahapLEDProyek-based learning(PjBL).Hasil  penerapan model pembelajaran Project-Base Learningadalah lebihmenantangdan lebih menarikbagi siswa sehingga merekamendapatkan pelajaran yang bermanfaatdari praktek yang dilaksanakan.
Fatimah (2011) melaksanakan penelitian untuk skripsi tentang Penerapan Metode Project Based Learning (PBL) pada Mata Diklat Ilmu Statika dan Tegangan untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X SMKN 6 Malang. Hasil penelitiannya menunjukan bahwa pelaksanaan metode Project Based Learning dapat menunjukkan perubahan sikap dari yang pasif menjadi aktif. Penerapan metode Project Based Learningjuga dapat meningkatkan hasil belajar Siswa.
Yudha (2009) melaksanakan penelitian tentang Penerapan Metode Project Base Learning (PBL) untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Mata Diklat Mekanika Teknik pada Siswa Kelas X Semester II SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen Tahun Pelajaran 2008/2009. Berdasarkan hasil analisis datanya dapat disimpulkan bahwa penerapan metode PBL terbukti sangat efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran mata diklat Mekanika Teknik.
Risqiyati (2011) melakukan penelitian tentang Penerapan Metode Pemberian Tugas untuk Meningkatkan Hasil Belajar Geografi Siswa Kelas X 7 SMA Negeri 1 Tumpang. Simpulan hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ada peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan metode pemberian tugas. Penerapan metode pemberian tugas tersebut dapat merangsang pola pikir siswa sehingga berdampak pada hasil belajar mereka.
Lestari (2012) melaksanakan penelitian tentang Penerapan pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) untuk meningkatkan hasil belajar daya ingat siswa kelas XI pada mata pelajaran akutansi di SMAN 1 Sutojayan Kabupaten Blitar. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa hasil belajar daya ingat siswa di kelas XI IPS V mengalami peningkatan. Hal ini dapat ditunjukkan dengan meningkatnya hasil belajar daya ingat siswa dengan melakukan tes evaluasi.
Widodo (2009) juga melaksanakan penelitian tentang Model Pembelajaran Project based learning untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Unsur-unsur Geosfer Mapel Geografi Kelas XI SMAN 1 Sarang Rembang.Hasil penelitiannya menunjukan adanya peningkatan pemahaman konsep unsur-unsur geosfer.
Sopandi (2011) melaksanakan penelitian tentang Penerapan model pembelajaran Project Based Learning (PBL) untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa pada mata diklat kompetensi kejuruan kelas XI Teknik Permesinan di SMKN 1 Singosari. Hasil penelitian menunjukan meningkatnya aktivitas belajar siswa  dan prestasi belajar siswa pada mata diklat kompetensi kejuruan  tehnik permesinan.

2.5  Kerangka Berfikir

Dari kajian teori dan dukungan hasil penelitian yang telah dideskripsikan sebelumnya dapat dikembangkan kerangka berpikir bahwa penerapan model pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) dengan bantuan media power point dapat meningkatkan respon belajar siswa dan kemampuan berpikir kritisnya. Kerangka berpikir tersebut dikembangkan dari rasional berpikir sebagai berikut. Pertama, penerapan pembelajaran berbasis proyek dalam mata pelajaran IPS tidak hanya berorientasi pada penguasaan konsep-konsep IPS secara deduktif. Pembelajaran IPS, sebaliknya, akan bermula pada realita kehidupan masyarakat yang telah dialami oleh siswa. Dengan memahami realita kehidupan masyarakat yang menjadi objek kajian IPS, siswa kemudian diajak untuk belajar membangun konsepnya sendiri dan sekaligus mengenali masalah-masalah yang terjadi. Konflik kognitif yang timbul kemudian dijadikan dasar untuk mengidentifikasi masalah dengan segala ruang lingkupnya dan mencoba mengidentifikasi faktor-faktor penyebab munculnya masalah. Belajar pada tahap awal seperti ini membantu siswa belajar secara kritis bagaimana membangun konsep-konsep sosial melalui pengalaman nyata berinteraksi dengan fakta dan peristiwa-peristiwa sosial di masyarakat sebagai data. Siswa juga akan belajar bagaimana konsep-konsep dan proposisi sosial yang dibangun dapat menimbulkan konflik kognitif yang mengharuskan siswa memecahkan masalah yang dihadapi. Di sinilah sifat kritis yang awal dapat dikembangkan dalam cara atau metode berpikir siswa, karena siswa tidak hanya belajar menerima konsep yang sudah jadi, melainkan membangun konsep sosialnya secara mandiri dengan segala resiko konflik kognitif yang dihadapi karena belum kompleksnya cara berpikir siswa.
Kedua, penerapan model pembelajaran berbasis proyek dengan berawal pada masalah yang dihadapi membantu siswa tidak saja harus mengembangkan kerangka berpikir yang kompleks untuk dapat mengatasi masalah, tetapi dapat pula membantu siswa berpikir kritis untuk mengembangkan metode berpikir dan metode kerja ilmiah bagaimana dapat memecahkan masalah secara efektif dan efisien. Dalam proses ini siswa akan belajar menghubungkan dasar-dasar teori sosial yang dipelajari, mendeduksinya menjadi hubungan antar konsep dan variabel yang akan diamati, belajar merasionalisasi data-data relevan yang diperoleh dari fakta-fakta dan peristiwa sosial yang diamati, belajar menguji kesesuaian antara data dan variabel atau konsep yang dipelajari, dan belajar membuat simpulan yang relevan pula. Proses belajar seperti ini memaksa siswa harus aktif secara mental mengembangkan kemampuan berpikir, tidak saja pada level kemampuan berpikir tingkat rendah (menghafal dan memahami), tetapi juga harus mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi: melakukan kegiatan analisis dan sintesis, menilai dan mengkritisi, serta mengembangkan kemampuan berpikir mengkreasikan atau menciptakan ide-ide baru yang relevan untuk pemecahan masalah-masalah sosial yang dihadapi.
Ketiga, penerapan model pembelajaran berbasis proyek cenderung berorientasi pada kemampuan belajar siswa untuk memproduk sesuatu dalam proses belajar memecahkan masalah-masalah sosial yang dilakukan melalui memproduksi portofolio serta dinilai dengan pendekatan penilaian yang bersifat otentik. Proses belajar memproduksi portofolio yang menunjukkan hasil karya belajar yang terbaik ini jelas membimbing dan memberdayakan kemampuan berpikir kritis siswa di tingkat analisis, evaluatif, dan proses berpikir kreatif/inovatif. Di tingkat kemampuan analisis, siswa misalnya belajar mengidentifikasi faktor-faktor penyebab munculnya masalah secara kritis dan detail, mendeduksi teori menjadi hubungan antar konsep dan variabel, serta mengumpulkan dan memilih data yang relevan. Kemampuan berpikir evaluatif, misalnya, dikembangkan siswa ketika membuat pertimbangan tentang berbagai alternatif pemecahan masalah, memberikan pertimbangan atas usulan kebijakan publik yang diajukan, dan melakukan kegiatan klarifikasi nilai secara mandiri dan bertanggung jawab. Sedangkan proses berpikir kreatif dilakukan siswa ketika harus menghasilkan ide-ide baru untuk pemecahan masalah. Seluruh kemampuan berpikir dan berkarya seperti ini akan dieavaluasi dengan pendekatan penilaian otentik yang mewajibkan siswa harus menunjukkan proses dan hasil belajar yang otentik pula.
Keempat, karena diyakini bahwa umumnya sebagian besar siswa SMK masih mengalami proses berpikir pada tingkatan operasional konkrit, maka untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan penalaran yang lebih formal akan dibantu dengan penggunaan media power poit dalam pembelajaran. Penggunaan media power point ini akan memediasi siswa dari kemampuan berpikir tingkat operasional konkrit ke tingkat operasional formal. Caranya adalah dengan membantu dan membimbing siswa mentransformasi informasi dari satu bentuk ke bentuk lain dan dari sistem informasi yang paling konkrit ke sistem informasi yang sangat bersifat abstrak.Jelaslah dari paparan di atas bahwa jika dapat diimplementasikan model pembelajaran berbasis proyek dengan langkah-langkah pembelajaran yang efektif, maka diharapkan akan dapat meningkatkan respon belajar dan kemampuan berpikir kritis siswa dalam memecahkan masalah-masalah sosial  dalam pembelajaran IPS.

2.6  Hipotesis Penelitian  

Hipotesis merupakan jawaban sementara dari sustu permasalahan. Hipotesis dalam penelitian tindakan kelas ini adalah “penerapan model pembelajaran Project Based Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada siswa kelas x multimedia 3 SMK Negeri 1 Sukasada.