indra prastika
Sabtu, 14 Juni 2014
Kamis, 12 Juni 2014
PORKES STKIP AH SINGARAJA
1.1 Latar Belakang Masalah
Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS) mengkaji seperangkat fakta, peristiwa,konsep, proposisi,
dan generalisasi yang berkaitan dengan fenomena sosial dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara (Sukadi, 2006: 58). Pada jenjang SMK mata pelajaran IPS memuat materi Sejarah,
Ekonomi, Sosiologi, dan Antropologi. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi
warga negara Indonesia yang demokratis dan bertanggung jawab serta warga dunia
yang cinta damai (Stopsky & Lee, 1994: 10).
Mata pelajaran IPS dirancang
untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap
kondisi sosial masyarakat. Kemampuan tersebut diperlukan untuk memasuki
kehidupan masyarakat yang dinamis. Mata pelajaran IPS disusun secara sistematis,
komprehensif, dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan
keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat. Dengan pendekatan tersebut
diharapkan peserta didik akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam
pada bidang ilmu yang berkaitan. Mata pelajaran IPS di SMK bertujuan agar
peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.1) Memahami konsep-konsep
yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya. 2) Berpikir logis dan kritis serta mengembangkan rasa ingin tahu, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam
kehidupan social.3) Berkomitmen
terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.4) Mampu berkomunikasi, bekerjasama
dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk baik di tingkat lokal, nasional, maupun
global (Sudira. 2006).
Untuk mencapai tujuan
tersebutproses pembelajaran IPS di kelas diharapkan lebih
efektif. Hal ini terjadi apabila guru melaksanakannya dengan memahami peran,
fungsi dan kegunaan mata pelajaran IPS yang diajarkan. Selain
pemahaman akan hal-hal tersebut, keefektipan juga ditentukan oleh kemampuan guru untuk
mengubah model pengajaran menjadi model pembelajaran yang lebih inovatif sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Permen
Diknas No. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses.
Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan yang dilandasi oleh filsafat kontruktivisme mensyaratkan pelaksanaan
pembelajaran yang bersifat lebih mengaktifkan peran siswa, pembelajaran
berfikir kritis pada siswa SMK sangat diperlukan untuk mempersiapkan siswa
menghadapi persaingan pada jaman global, membantu siswa mengatasi permasalahan
sehari hari dan menyiapkan kematangan emosional siswa. Salah satu model pembelajaran
yang dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa adalah model pembelajaran yang
berbasis proyek atau Project-Base Learning.
Model pembelajaran ini memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk
menggali potensi diri secara mandiri dan sesuai keinginan dan tujuan dan
memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar dengan caranya sendiri dalam
menyelesaikan masalah, sehinnga pada diri siswa muncul bagaimana cara
menganalisis masalah sesuai dengan konsep pikiran yang dimiliki. Hal ini
merupakan salah satu proses berpikir kritis. Keterampilan berpikir kritis sangat diperlukan dalam era global untuk
meningkatkan kemampuan bersaing,
mengatasi masalah-masalah kehidupan yang semakin kompleks, dan menyiapkan siswa menghadapi
dunia kerja. Berfikir kritis juga diperlukan untuk proses kematangan emosional,
sosial, dan pengetahuan moral serta spiritual. Dalam berpikir kritis siswa dapat mempelajari fakta melalui
serangkaian proses untuk penanaman konsep, pengulangan, dan penguasaan secara
mendalam (Louis E. R.2001)
Menurut Chang & Kou
& You (2012:) penerapan model pembelajaran Project-Base Learningadalah lebihmenantangdan
lebih menarikbagi siswa,sehingga merekamendapatkan
pelajaran yang bermanfaatdari praktek
yang mereka laksanakan.
Salah satu Standar
kompetensi mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)di SMK kelas X adalah
menganalisis faktor konflik sosial dalam masyarakat
yang menuntut kemampuan siswa memiliki kemampuan berpikir kritis, analitis dan
kreatif. Namun kenyataan yang dihadapi di SMK Negeri 1 Sukasada
sesuai dengan hasil observasi dan wawancara yang dilaksanakan pada tanggal 2
Nopember Tahun 2012 khususnya di kelas X Multimedia 3 menunjukkan ada beberapa
kendala yang dialami siswa selama proses belajar mengajar berlangsung yaitu sebagai berikut.
1. Metode yang digunakan masih konvensional
Metode
yang digunakan
oleh guru dalam mengajar masih menggunakan metode ceramah
dimana guru menjelaskan dan menyebutkan berbagai fakta sosial baik yang
menyangkut materi Sejarah, Ekonomi,
Sosiologi maupun Antropologi. Materi-materi pelajaran IPS tersebut dicatat
siswa secara terpisah-pisah baik berupa fakta, peristiwa, fenomena, konsep
ataupun variabel-variabel yang masing-masing berdiri sendiri-sendiri. Dengan
fakta-fakta yang dicatat tersebut, siswa kemudian belajar menghafalkan materi
tersebut sebanyak mungkin, agar mereka lulus dalam tes, baik yang bersifat
formatif maupun sumatif. Makin banyak materi fakta-fakta yang dapat dihafal
oleh siswa, ada indikasi pula bahwa makin tinggilah prestasi belajar atau hasil
belajar siswa yang hanya diukur melalui tes objektif. Siswa belajar hanya
dengan melakukan kegiatan membaca bahan ajar IPS seperlunya dan seadanya,
mencatat fakta-fakta penting kalau diperlukan, mendengarkan ceramah atau cerita
guru, mengerjakan PR dengan menjawab soal-soal yang terdapat pada bahan ajar,
menghafalkan fakta-fakta tersebut jika akan ada ulangan atau tes, merespons
pertanyaan guru dalam kegiatan tanya jawab di kelas jika bisa, dan siswa tidak
mampu menjawab walaupun sifatnya pengulangan apa yang telah
dibahas. Proses belajar seperti ini jelas sangatlah terbatas dalam memanfaatkan
potensi kemampuan berpikir, kepribadian, dan keterampilan siswa.
Secara
kognisi, belajar IPS seperti ini hanya mengandalkan kemampuan kognitif tingkat
rendah karena siswa hanya belajar menghafalkan fakta-fakta dan konsep-konsep
materi pelajaran IPS tanpa pengertian yang mendalam dan bermakna (Gredler,1992:68).
Kemampuan berpikir seperti ini jelas kurang bertahan lama. Karena itu, siswa
sering baru belajar ketika tes akan diadakan. Jika tidak ada tes, siswa tidak
akan belajar.
2.
Siswa kurang peka terhadap masalah sosial
Siswa kurang
mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kreatif. Siswa
juga menunjukkan kurangnya kemampuan dalam menggunakan penalaran dalam
mengambil keputusan khususnya dalam menganalisis konflik-konflik sosial yang
terjadi dalam masyarakat dan lingkungan sekolah. Masalah ini ditunjukkan dengan
tidak adanya inisiatif siswa untuk bertanya maupun menjawab bila dihadapkan
dengan suatu permasalahan yang membutuhkan proses berpikir dan siswa kurang
peka terhadap masalah-masalah yang
terjadi dalam masyarakat.
3.
Dalam proses belajar mengajar guru kurang inovatif
Masalah
lain dalam proses pembelajaran, guru juga jarang menggunakan
model pembelajaran dengan memberi kesempatan kepada siswa secara otonom
mengkonstruk pengetahuan mereka sendiri
sampai menghasilkan produk, dimana produk adalah merupakan tuntutan siswa SMK. Guru mata pelajaran IPS
juga kurang maksimal dalam menggunakan media pengajaran dan pembelajaran yang
interaktif khususnya penggunaan media
Power Point.
Berdasarkan
fenomena di atas peneliti dan guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas
X SMK Negeri 1 Sukasada bersepakat untuk mencari solusi terhadap
masalah-masalah yang terkait dengan kemampuan menganalisis faktor-faktor
konflik sosial dalam masyarakat dalam upaya menumbuhkan pembelajaran berbasis kompetensi dan
menghasilkan produk dalam memperbaiki mutu pendidikan utamanya pada mata
pelajaran IPS. Sangat perlu kiranya dilakukan perbaikan cara pembelajaran
berbasis proyek. Salah satunya adalah penerapan model pembelajaran dengan menggunakan
model pembelajaran Project-Based Learning.
Pembelajaran
berbasis proyek memiliki potensi yang amat besar untuk membuat pengalaman
belajar yang lebih menarik dan bermanfaat bagi peserta didik (Santyasa,
2006:12). Dalam pembelajaran berbasis proyek, peserta didik terdorong lebih
aktif dalam belajar. Guru hanya sebagai fasilitator, mengevaluasi produk hasil
kerja peserta didik yang ditampilkan dalam hasil proyek yang dikerjakan,
sehingga dengan penerapan model pembelajaran berbasis proyek yang menghasilkan
produk nyata dalam bentuk laporan diharapkan siswa mampu berfikir kritis dalam
menganalisa faktor konflik sosial yang
ada dalam masyarakat.
1.2 Identifikasi Masalah
Dari
penjelasan latar belakang di atas dapat diidentifikasi adanya beberapa permasalahan
dalam praktik pembelajaran IPS pada siswa kelas X Multimedia 3SMK Negeri 1
Sukasada, antara lain sebagai berikut.
1. Pembelajaran IPS pada siswa kelas X Multimedia 3 SMK Negeri 1 Sukasada
kurang powerful berbasis
kontruktivisme, dalam arti pembelajaran IPS kurang bermakna, kurang
terintegrasi, kurang berbasis penalaran nilai, kurang membuat siswa aktif, dan
kurang menantang siswa untuk membangun pengetahuan mereka sendiri secara
bermakna (lihat NCSS, 2000: 4-5). Ini terjadi karena pembejaran cenderung
terjadi secara konvensional yang menekankan penggunaan metode ekspositori,
dimana guru memberikan siswa pengetahuan IPS yang sudah jadi berupa fakta/data,
peristiwa, konsep, pengertian, dan beberapa proposisi yang bisa dihafal oleh
siswa.
2. Dengan pembelajaran IPS yang bersifat konvensional seperti itu siswa
cenderung belajar IPS secara pasif, yaitu: duduk, mendengarkan ceramah guru,
mencatat point-point penting,
menghafalkan isi catatan dan isi buku ajar sebisa mungkin, dan mengikuti tes
objektif pilihan ganda dan atau tes isian singkat. Belajar IPS seperti itu
sering memberikan kesan kepada siswa bahwa belajar dan mata pelajaran IPS
adalah mata pelajaran hafalan. Siswa tidak berani berbeda dengan konsep,
pengertian, dan fakta-fakta yang ada dalam buku atau yang diberikan oleh guru.
Belajar IPS seperti ini membuat siswa cepat lupa dengan apa yang telah
dihafalkannya karena materi pelajaran yang dihafalkan tidak utuh dan tidak
bermakna, membuat siswa cepat bosan dan malas membaca buku atau catatan,
membuat siswa kurang memiliki rasa percaya diri, dan tanggapan siswa terhadap
pembelajaran IPS cenderung negatif.
3. Akibat praktik belajar dan pembelajaran IPS yang konvensional tersebut pada
hasil belajar siswa adalah rendah dan kurang bermakna. Pengetahuan siswa tidak
utuh dan artifisial; pengetahuan tingkat rendah (umumnya C1 dan C2 saja);
bersifat hafalan; kurang membantu siswa bernalar secara analitis, kritis, dan
kreatif; kurang memiliki penalaran nilai dan orientasi nilai yang baik; kurang
memiliki keterampilan akademis dan sosial yang memadai; kurang memiliki rasa
percaya diri dan konsep diri yang baik; kurang membangun komitmen nilai-nilai
yang positif; dan akhirnya tidak membantu siswa membangun kompetensi
intelektual, emosional, sosial, moral, dan spiritual yang utuh dan baik
sebagaimana dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.
4. Dalam kondisi praktik pembelajaran IPS, sikap dan tanggapan siswa terhadap
pembelajaran IPS, serta hasil belajar IPS siswa yang rendah dan kurang bermakna
seperti di atas, dengan tidak disadari, guru sesungguhnya membutuhkan untuk
melakukan upaya kreatif dan inovatif untuk memperbaiki kondisi praktik
pembelajaran IPS tersebut. Maka disepakatilah untuk menerapkan model
pembelajaran IPS berbasis proyek. Penerapan model pembelajaran ini diyakini
dapat meningkatkan kualitas pembelajaran IPS menjadi lebih powerful, dalam arti lebih bermakna bagi siswa, lebih terintegrasi,
lebih berbasis nilai-nilai, dapat membuat siswa lebih aktif, dan menantang
upaya belajar siswa. Jika kualitas pembelajaran ini bisa lebih ditingkatkan,
maka sikap dan tanggapan siswa terhadap pembelajaran IPS diharapkan menjadi
lebih positif, dan pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa baik
yang menyangkut aspek atau domain pengetahuan, nilai-nilai dan sikap,
keterampilan akademis dan sosial, rasa percaya diri dan konsep diri yang
positif, komitmen yang lebih kuat, dan kompetensi sosial yang lebih memadai
(Sukadi, 2006).
1.3 Pembatasan Masalah
Masalah yang dapat diidentifikasi dari latar belakang di atas ternyata
cukup kompleks. Tidak mungkin seluruh permasalahan yang dapat diidentifikasi
dapat diteliti secara utuh dan komprehensif dalam penelitian ini. Di samping
karena faktor keterbatasan sumber daya, peneliti berpikir lebih baik untuk
memfokuskan penelitian ini pada beberapa masalah yang lebih sederhana sehingga
peneliti dapat lebih fokus. Penelitian yang lebih fokus akan dapat lebih
meningkatkan validitas internalnya. Karena itu, dalam penelitian ini hanya
diteliti beberapa aspek saja dari masalah-masalah yang telah diidentifikasi di
atas, antara lain sebagai berikut.
1. Penerapan model pembelajaran berbasis proyek (Project-based learning) pada pembelajaran IPS di kelas X Multimedia
3 SMK Negeri 1 Sukasada. Pemilihan model pembelajaran ini didasari oleh
keyakinan teoretis dan dukungan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa
penerapan pembelajaran berbasis proyek ini dalam pembelajaran IPS dapat memberi
pengalaman belajar IPS yang lebih powerful
(bermakna, terintegrasi, berbasis nilai, membuat siswa aktif, dan menantang)
kepada siswa.
2. Tanggapan siswa terhadap pembelajaran IPS dengan menerapkan model
pembelajaran berbasis proyek. Pemilihan variabel ini didasari oleh pertimbangan
dan harapan bahwa dengan meningkatkan kualitas pembelajaran IPS melalui
penerapan model pembelajaran berbasis proyek diharapkan sikap dan tanggapan
siswa terhadap pembelajaran IPS menjadi lebih positif. Tanggapan siswa yang
lebih positif terhadap pembelajaran IPS tentu akan menjadikan pembelajaran IPS
lebih membuat siswa aktif dan memberikan pengalaman belajar IPS yang lebih
menyenangkan kepada siswa.
3. Hasil belajar IPS siswa terutama pada aspek kemampuan berpikir kritis.
Pemilihan variabel ini didasarkan atas pertimbangan dan harapan untuk meningkat
kualitas hasil belajar siswa yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan
pengetahuan tingkat rendah seperti yang selama ini dilakukan umum oleh
guru-guru IPS di kelas. Dengan memfokuskan penelitian ini pada kemampuan
berpikir kritis sebagai konsekuensi dari penerapan model pembelajaran IPS
berbasis proyek, diharapkan wawasan guru IPS di SMK Negeri 1 Sukasada akan
meningkat baik dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran IPS maupun dalam
upaya meningkatkan kualitas hasil belajar IPS siswa yang lebih bermakna.
1.4 Rumusan Masalah
Sepertiyang sudah dipaparkan pada bagian
pembatasan masalah, maka rumusan masalah penelitian ini dapat disampaikan sebagai berikut.
1.
Apakah penerapan model Pembelajaran Project-Based Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran IPS pada siswa kelas X Multimedia 3 SMK Negeri 1 Sukasada?
2.
Bagaimanakah tanggapan siswa terhadap penerapan model
pembelajaran project-based
Learning pada siswa kelas X Multimedia 3 SMK Negeri 1 Sukasada?
1.5 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan
masalah diatas maka dapat disampaikan bahwa tujuan penelitian adalah sebagai
berikut.
1.
Meningkatkan kemampuan berfikir kritis siswamelalui penerapan
model pembelajaran Project-Based Learning pada siswa kelas X Multimedia 3 SMK Negeri 1
Sukasada.
2.
Mendeskripsikan tanggapan siswaterhadap penerapan model pembelajaran Project-Based Learning pada siswa kelas X Multimedia 3 SMK Negeri 1
Sukasada.
1.6 Manfaat Penelitian
Manfaat
penelitian secara umum dapat dipilah menjadi dua kategori, yaitu manfaat
praktis yang memberikan dampak langsung kepada komponen pembelajaran dan
manfaat teoretis yang memiliki dampak jangka panjang dalam pengembangan teori
pembelajaran.
2
Secara Teoretis
Secara teoretis, manfaat penelitian yang diharapkan sebagai berikut: 1) Memberikan sumbangan pengetahuan tentang implementasi model pembelajaranberbasis proyek berbantuan media power point dalam
meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran IPS pada siswa kelas X Multimedia
3 SMK Negeri 1 Sukasada; 2) Bagi peneliti lain hasil
penelitian ini dapat dipergunakan sebagai pembanding dalam
melaksanakan penelitian yang
relevan bila melaksanakan kajian penelitian khususnya dalam menggunakan model pembelajaran berbasis proyek.
3
Secara Praktis
a.
Bagi siswa, menambah wawasan agar mempertajam daya analisis
sehingga memiliki kemampuan berpikir kritis.
b.
Bagi Guru, sebagai bahan masukan, pedoman yang bersifat
alternatif dalam menerapkan model pembelajaran sesuai dengan karakteristik
siswa dan tuntutan SK dan KD sekaligus meningkatkan kinerja guru khususnya guru
yang mengajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di SMK Negeri 1 Sukasada.
c.
Bagi pemimpin sekolah, diharapkan dapat menjadi
bahan informasi dan referensi agar mengetahui dan peka terhadap
masalah-masalah pembelajaran di kelas sekaligus mendorong guru lain untuk aktif
melakukan inovasi dalam pembelajaran agar lebih inofatif khususnya dalam menerapkan model pembelajaran Project-Base Learning.
1.7 Definisi Operasional
1.
Project-Base Learning ( PjBL) adalah model pembelajaran
inovatif yang berfokus pada konsep dan
prinsip inti sebuah disiplin memfasiliasi, pemecahan masalah dan tugas-tugas
bermakna lainnya dan menghasilkan produk nyata.
2.
Berfikir kritis adalah suatu aktifitas mental yang membantu
memformulasikan atau memecahkan suatu masalah, membuat suatu keputusan atau
memenuhi hasrat keingintahuan.
BAB II
LANDASAN TEORI DAN KAJIAN PUSTAKA
2.1 Karakteristik Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
Ilmu Pengetahuan
Sosial pada hakikatnya adalah sebuah program
pendidikan/pembelajaran di sekolah yang diberikan dari jenjang pendidikan dasar
hingga jenjang pendidikan menengah yang memberdayakan siswa untuk melakukan
studi sosial secara terintegrasi mengenai hubungan manusia dengan sesamanya
dalam kehidupan masyarakat dan dengan lingkungannya, sehingga siswa diharapkan
berkembang kompetensi sosialnya (Hasan, 2010). Pendidikan IPS, karena itu,
mengkajisecara terintegrasi hubungan antara manusia dengan
lingkungannya. Lingkungan masyarakat dimana anak didik tumbuh dan berkembang
sebagai bagian dari masyarakat dihadapkan pada berbagai permasalahan yang ada
dan terjadi di lingkungan sekitarnya. Pendidikan IPS berusaha membantu peserta
didik dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi sehingga akan menjadikannya
semakin mengerti dan memahami lingkungan sosial masyarakatnya (Kosasih, 1994).
Pada dasarnya, tujuan
dari pendidikan IPS adalah untuk mendidik dan memberi bekal kemampuan dasar kepada siswa
untuk mengembangkan diri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan
lingkungannya, serta berbagai bekal siswa untuk melanjutkan pendidikan ke
jenjang yang lebih tinggi. Berdasarkan pengertian dan tujuan dari pendidikan
IPS, tampaknya dibutuhkan suatu pola pembelajaran yang mampu menjembatani tercapainya
tujuan tersebut. Kemampuan dan keterampilan guru dalam memilih dan menggunakan
berbagai model, metode dan strategi pembelajaran senantiasa terus ditingkatkan
(Kosasih, 1994), agar pembelajaranIPS benar-benar mampu mengondisikan upaya
pembekalan kemampuan dan keterampilan dasar bagi peserta didik untuk menjadi
manusia dan warga negara yang baik. Hal ini dikarenakan pengondisian iklim
belajar merupakan aspek penting bagi tercapainya tujuan pendidikan IPS (Azis
Wahab, 1986).
Pola pembelajaranIPS menekankan
pada unsur pendidikan dan pembekalan pada peserta didik. Penekanan
pembelajarannya bukan sebatas pada upaya mencekoki atau menjejali peserta
didik dengan sejumlah konsep yang bersifat hafalan belaka; melainkan terletak pada
upaya agar mereka mampu menjadikan apa yang telah dipelajarinya sebagai bekal
dalam memahami dan ikut serta dalam melakoni kehidupan masyarakat
lingkungannya, serta sebagai bekal bagi dirinya untuk melanjutkan pendidikan ke
jenjang yang lebih tinggi. Di sinilah sebenarnya penekanan misi dari pendidikan
IPS. Oleh karena itu, rancangan pembelajaran oleh guru hendaknya diarahkan dan
difokuskan sesuai dengan kondisi dan perkembangan potensi siswa agar
pembelajaran yang dilakukan benar-benar berguna dan bermanfaat bagi siswa
(Kosasih, 1994; Hasan, 1996). Tujuan utama Ilmu Pengetahuan Sosial ialah untuk
mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang
terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala
ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi
sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa
masyarakat.Tujuan tersebut dapat dicapai manakala program-program pembelajaran
IPS di sekolah diorganisasikan secara baik. Dari rumusan tujuan tersebut dapat
dirinci sebagai berikut.1) Memiliki kesadaran dan kepedulian
terhadap masyarakat atau lingkungannya, melalui pemahaman terhadap nilai-nilai
sejarah dan kebudayaan masyarakat.2)Mengetahui dan memahami konsep dasar dan
mampu menggunakan metode yang diadaptasi dari ilmu-ilmu sosial yang kemudian
dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial.3)Mampu menggunakan
model-model dan proses berpikir serta membuat keputusan untuk menyelesaikan isu
dan masalah yang berkembang di masyarakat.4) Menaruh perhatian terhadap isu-isu
dan masalah-masalah sosial, serta mampu membuat analisis yang kritis,
selanjutnya mampu mengambil tindakan yang tepat.5) Mampu mengembangkan berbagai
potensi sehingga mampu membangun diri sendiri agar survive yang
kemudian bertanggung jawab membangun masyarakat dan pengembangan keterampilan
pembuatan keputusan.6)Memotivasi seseorang untuk bertindak berdasarkan moral.7)
Fasilitator di dalam suatu lingkungan yang terbuka dan tidak bersifat
menghakimi.8) Menyiapkan
siswa menjadi warga negara yang baik dalam kehidupannya (to prepare students to be well-functioning citizens in
a democratic society) dan mengembangkan kemampuan siswa mengunakan
penalaran dalam mengambil keputusan pada setiap persoalan yang dihadapinya. 9) Menekankan
perasaan, emosi, dan derajat penerimaan atau penolakan siswa terhadap materi
Pembelajaran IPS yang diberikan (Mutakin, 1998).
Kurikulum pendidikan IPS,
sebagaimana yang dinyatakan oleh Hasan (1990), merupakan fusi dari berbagai
disiplin ilmu. Martorella (1987) menyatakan bahwa pembelajaran Pendidikan IPS lebih
menekankan pada aspek “pendidikan” dari pada “transfer konsep”, karena dalam
pembelajaranIPS peserta didik diharapkan memperoleh pemahaman terhadap sejumlah
konsep dan mengembangkan serta melatih sikap, nilai, moral, dan keterampilannya
berdasarkan konsep yang telah dimilikinya. Dengan demikian, pembelajaran IPS
harus diformulasikan pada aspek kependidikannya.
Prinsip Pelaksanaan
Kurikulum IPS untuk SMK meliputi, sebagai berikut.1) Didasarkan pada potensi,
perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna
bagi dirinya.2) Menegakkan pilar belajar yang relevan.3) Memungkinkan
peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan.4) Dilaksanakan dalam suasana
hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab,
terbuka, dan hangat.5) Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan beragam
pendekatan dan sumber.6) Mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya serta
kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan
kajian secara optimal. 7) Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi
mata pelajaran muatan lokal dan pengembangan diri (Depdiknas,
2004).
Mata pelajaran IPS SMK
bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut. 1) Memahami
konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya. 2) Berpikir
logis dan kritis, rasa ingin tahu, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam
kehidupan social. 3) Berkomitmen terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan. 4) Berkomunikasi,
bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk di tingkat lokal,
nasional, dan global.
Standar kompetensi dan
kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok,
kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian.
Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar
Proses dan Standar Penilaian(Sudira, 2006).
Menganalisis faktor konflik
sosial dalam masyarakat merupakan salah satu kopetensi dasar
mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang diajarkan dikelas X semester genap,
dimana proses pembelajarannya ini bertujuan nantinya siswa mampu berpikir logis, kritis, rasa
ingin tahu, memecahkan masalah dengan melihat, mengkaji, menemukan masalah
baik secara individu maupun secara kelompok, sehingga nantinya mampu
menganalisis faktor konflik sosial yang ada
dalam masyarakat.
2.2 Model Pembelajaran Project-Base Learning (PjBL)
2.2.1 Pengertian Project-Base Learning
Menurut Santyasa (2011:
164-179) Project-Base Learning (PjBL)
adalah model pembelajaran inovatif yang berfokus pada konsep dan prinsip inti
sebuah disiplin, memfasilitasi pembelajar
untuk berinvestigasi, pemecahan masalah, dan tugas-tugas bermakna
lainnya dan menghasilkan produk nyata. Sebagai muara dari pembelajaran model
ini selalu menghasilkan produk nyata. Produk nyata tersebut dihasilkan dari
proses elaborasi yang intensif, diskusi interaktif dan revisi secara komprehensif. Oleh sebab
itu produk dari Project-Base Learning merupakan hasil karya terbaik bagi
pembelajar, untuk mengakses hasil karya
terbaik pembelajar tersebut dibutuhkan asesmen
otentik dan portofolio. Portofolio
merefleksikan apa yang telah dipelajari oleh pembelajar, bagaimana
mereka menganalisis, mensintensis, memecahkan masalah dan menciptakan gagasan
baru, dan bagaimana mereka mendesain dan
mengembangkan produk-produk yang bermanfaat. Portofolio juga menunjukkan
bagaimana pembelajar berinteraksi secara
intelektual, emosional,sosial, moral, dan spiritual dengan yang lain.
Proses pembelajaran berbasis
proyek merupakan proses pembelajaran untuk memantapkan pengalaman yang belum
mantap, memperluas pengetahuan yang belum luas, dan menyempurnakan pengetahuan
yang belum sempurna yang diperoleh dalam
pengalaman sebelumnya agar menjadi pengetahuan
yang mantap, berwawasan luas, dan sempurna setelah mengakhiri pembelajaran.
Ungkapan ini sesuai dengan konsepsinya Marzano (1992) bahwa belajar melalui
pengalamannyatadapat memperluas dan menyempurnakan pengetahuan. Pengetahuan yang telah mantap,
luas dan sempurna tersebut direpresentasikan oleh produk nyata yang standar.
MenurutShields(2005), PjBL adalah menggabungkan metode yang meliputi pembelajaran berbasis masalah,kooperatif
learning, pembelajaran konstruktif, pembelajaran aktif dan teori manajemen
proyek.Mengembangkan kerja know-how
harus menjadi tujuan utama dari setiap pembelajaran berbasis proyek.Shields
mengidentifikasi lima bidang kompetensi bahwa proyek harus membahas:
1)kemampuan untuk mengidentifikasi,mengorganisir, merencanakan dan
mengalokasikan sumber daya;2) keterampilan interpersonal;3) kemampuan untuk
memperoleh dan menggunakaninformasi;4) kemampuan untuk memahami keterkaitan
yang kompleks; dan 5) kemampuan untuk bekerja.
Project-Base Learning (PjBL) dapat diterapkan untuk semua bidang studi
dengan mengikuti lima langkah utama pembelajaran, yaitu: 1) menetapkan tema
proyek,2) menetapkan konteks belajar,3) merencanakan
aktivitas-aktivitas, 4) memeroses aktivitas-aktivitas, dan 5) penerapan aktivitas-aktivitas untuk
menyelesaikan proyek.Pembelajaran Berbasiskan Proyek berasal
dari gagasan John Dewey tentang konsep “Learning
by Doing” yakni proses perolehan hasil belajar dengan mengerjakan
tindakan-tindakan tertentu sesuai dengan tujuannya, terutama penguasaan anak
tentang bagaimana melakukan sesuatu pekerjaanyang terdiri atas serangkaian
tingkah laku untuk mencapai suatu tujuan.
Project Based Learning merupakan sebuah model
pembelajaran yang sudah banyak dikembangkan di negara-negara maju seperti Amerika
Serikat. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, Project Based Learning bermakna
sebagai pembelajaran berbasis proyek. Definisi secara lebih komperehensif
tentang Project Based Learning menurut The George Lucas Educational
Foundation (2005) adalah sebagai berikut :
1) Project-based learning is curriculum
fueled and standards based. Project Based Learning merupakan
model pembelajaran yang menghendaki adanya standar isi dalam kurikulumnya.
Melalui Project Based Learning, proses inkuiri dimulai dengan memunculkan
pertanyaan penuntun (aguiding question) dan membimbing peserta didik
dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi)
dalam kurikulum. Pada saat pertanyaan terjawab, secara langsung peserta didik
dapat melihat berbagai elemen mayor sekaligus berbagai prinsip dalam sebuah
displin yang sedang dikajinya (The George Lucas Educational Foundation:
2005).
2) Project-based Learning adalah model pembelajaranyang menuntut pengajar dan atau peserta didik
mengembangkan pertanyaan penuntun (a guiding question). Mengingat bahwa
masing-masing peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda, maka Project
Based Learning memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk
menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi
dirinya, dan melakukan eksperimen secara kolaboratif. Hal ini memungkinkan
setiap peserta didik pada akhirnya mampu menjawab pertanyaan penuntun (The
George Lucas Educational Foundation: 2005).
3) Project-based learning asks students to investigate
issues and topics addressing real-world problems while integrating subjects
across the curriculum. Project Based Leraning merupakan model
pembelajaran yang menuntut peserta didik membuat “jembatan” yang menghubungkan
antar berbagai subjek materi. Melalui jalan ini, peserta didik dapat melihat
pengetahuan secara holistik. Lebih daripada itu, Project Based Learning merupakan
investigasimendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga
bagi atensi dan usaha peserta didik (The George Lucas Educational Foundation, 2005).
4) Project-based learning is a method that
fosters abstract, intellectual tasks to explore complex issues. Project Based
Learning merupakan model pembelajaran yang memperhatikan
pemahaman. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi dan
mensintesis informasi melalui carayang bermakna. (The George Lucas
Educational Foundation, 2005).
Model
Pembelajaran Berbasis Proyek didukung oleh teori belajar konstruktivisme
yang menyatakan bahwa struktur dasar suatu kegiatan terdiri atas tujuan yang
ingin dicapai sebagai subyek yang berada di dalam konteks suatu masyarakat di
mana pekerjaan itu dilakukan dengan perantaraan alat-alat,
peraturan kerja, pembagian tugas dalam penerapan di kelas bertumpu pada
kegiatan aktif dalam bentuk melakukan suatu (doing) daripada kegiatan pasif “menerima” transfer pengetahuan dari
pengajar.
Pembelajaran berbasis proyek memiliki potensi yang besar untuk memberikan
pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna bagi siswa (Gear,1998). Sedangkan menurut Buck
Institute for Education (1999),pembelajaran berbasis proyek memiliki
karakteristik sebagai berikut.1) Pelajar membuat keputusan dan membuat kerangka
kerja.2) Terdapat masalah yang pemecahannya tidak ditentukan
sebelumnya.3) Pelajar merancang proses untuk mencapai hasil.4) Pelajar
bertanggungjawab untuk mendapatkan dan mengelola informasi yang dikumpulkan.5) Melakukan
evaluasi secara kontinyu.6) Pelajar secara teratur melihat kembali apa yang mereka
kerjakan.7) Hasil akhir berupa produk dan dievalusi kualitasnya. 8) Kelas
memiliki atmosfer yang memberi toleransi kesalahan dan perubahan.
Menurut Thomas (2000),
pembelajaran berbasis proyek memiliki lima prinsip, yaitu
sebagai berikut.Pertama, keterpusatan (centrality)
proyek dalam Pembelajaran
Berbasis Proyek adalah pusat atau inti kurikulum, bukan pelengkap kurikulum.
Di dalam Pembelajaran Berbasis Proyek, proyek adalah strategi pembelajaran; pelajar
mengalami dan belajar konsep-konsep inti suatu disiplin ilmu melalui proyek.
Ada kerja proyek yang mengikuti pembelajaran tradisional dengan cara proyek
tersebut memberi ilustrasi, contoh, praktik tambahan, atau aplikasi praktik
yang diajarkan sebelumnya dengan maksud lain. Akan tetapi, menurut kriteria di
atas, aplikasi proyek tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai Pembelajaran
Berbasis Proyek. Kegiatan proyek yang dimaksudkan untuk pengayaan di luar
kurikulum juga tidak termasuk Pembelajaran Berbasis Proyek.Kedua, berfokus
pada pertanyaan atau masalah proyek
dalam Pembelajaran Berbasis Proyek adalah terfokus pada pertanyaan atau
masalah, yang mendorong pelajar menjalani (dengan kerja keras) konsep-konsep
dan prinsip-prinsip inti atau pokok dari disiplin. Kriteria ini sangat
halus dan agak susah diraba. Definisi proyek (bagi pelajar) harus dibuat
sedemikian rupa agar terjalin hubungan antara aktivitas dan pengetahuan
konseptual yang melatarinya yang diharapkan dapat berkembang menjadi lebih luas
dan mendalam (Baron et al, 1998).Biasanya dilakukan dengan pengajuan
pertanyaan-pertanyaan atau ill-defined problem (Thomas, 2000). Proyek
dalam Pembelajaran Berbasis Proyek mungkin dibangun di sekitar unit tematik,
atau gabungan (intersection) topik-topik dari dua atau lebih disiplin,
tetapi itu belum sepenuhnya dapat dikatakan sebuah proyek.
Pertanyaan-pertanyaan yang mengejar pelajar, sepadan dengan aktivitas,
produk, dan unjuk kerja yang mengisi waktu mereka, harus digubah (orchestrated)
dalam tugas yang bertujuan intelektual (Blumenfeld, 1991).Ketiga, investigasi konstruktif
atau desain proyek
melibatkan pelajar dalam
investigasi konstruktif. Investigasi mungkin berupa proses
desain, pengambilan keputusan, penemuan masalah, pemecahan masalah, diskoveri,
atau proses pembangunan model. Akan tetapi, agar dapat disebut proyek memenuhi
kriteria Pembelajaran Berbasis Proyek, aktivitas inti dari proyek itu harus
meliputi transformasi dan konstruksi pengetahuan (dengan pengertian: pemahaman
baru, atau keterampilan baru) pada pihak pebelajar (Bereiter & Scardamalia,
1999). Jika pusat atau inti kegiatan proyek tidak menyajikan “tingkat
kesulitan” bagi anak, atau dapat dilakukan dengan penerapan informasi atau
keterampilan yang siap dipelajari, proyek yang dimaksud adalah tak lebih dari
sebuah latihan, dan bukan proyek Pembelajaran Berbasis Proyek yang dimaksud.
Membersihkan peralatan laboratorium mungkin sebuah proyek, akan tetapi mungkin
bukan proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek. Keempat, otonomi proyek mendorong pelajar sampai pada tingkat yang signifikan. Proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek bukanlah ciptaan guru,
tertuliskan dalam naskahatau terpaketkan. Latihan laboratorium bukanlah contoh
Pembelajaran Berbasis Proyek, kecuali jika berfokus pada masalah dan merupakan
inti pada kurikulum. Proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek tidak berakhir
pada hasil yang telah ditetapkan sebelumnya atau mengambil jalur (prosedur)
yang telah ditetapkan sebelumnya. Proyek Pembelajaran Berbasis Proyek lebih
mengutamakan otonomi, pilihan, waktu kerja yang tidak bersifat rigid, dan
tanggung jawab pelajar, daripada proyek trandisional dan pembelajaran tradisional.
Kelima,realisme
proyek adalah
realistik. Karakteristik proyek memberikan keontentikan pada pelajar.
Karakteristik ini boleh jadi meliputi topik, tugas, peranan yang dimainkan
pelajar, konteks dimana kerja proyek dilakukan, kolaborator yang bekerja dengan
pelajar dalam proyek, produk yang dihasilkan, audien bagi produk-produk proyek,
atau kriteria di mana produk-produk atau unjuk kerja dinilai. Pembelajaran
Berbasis Proyek melibatkan tantangan-tantangan kehidupan nyata, berfokus pada
pertanyaan atau masalah otentik (bukan simulatif), dan pemecahannya berpotensi
untuk diterapkan di lapangan yang sesungguhnya.
Menurut Santyasa (2011:170)
sebagai muara dari pembelajaran model PJBL selalu menghasilkan produk nyata,
produk nyata tersebut dihasilkan dari proses elaborasi yang itensif, diskusi,
interaktif, dan revisi secara komprehensif.Oleh sebab itu produk dari
PjBL merupakan hasil karya terbaik bagi pembelajar, untuk mengases hasil karya
terbaik pembelajar tersebut dibutuhkan
asesmen otentik dan portofolio.
2.2.2 Karakteristik dan langkah-Langkah Project-Base Learning
Menurut Santyasa (2011:166-170)
pembelajaran berbasis proyek memerlukan beberapa tahapan dan beberapa durasi
tidak sekedar merupakan rangkaian pertemuan kelas serta belajar kelompok
kolaboratif. Proyek memfokuskan pada pengembangan produk atau unjuk kerja, yang
secara umum siswa melakukan kegiatan: mengorganisasi kegiatan belajar kelompok
mereka, melakukan penkajian atau penelitian, memecahkan masalah dan mensintesis
informasi. Proyek selain dilakukan secara kolaboratif juga harus bersifat inovatif, berfokus pada
pemecahan masalah yang berhubungan dengan kehidupan siswa.
Ada empat karakteristik
pembelajaran berbasis proyek, yaitu isi, kondisi, aktivitas dan hasil.
Diskripsi karakteristik tersebut disajikan pada Tabel 1.1
Tabel 1.1 Karakteristik utama Project-Base Learning
I. ISI:
memuat gagasan yang
orisinil
1.
Masalah
kompleks
2.
Siswa
menemukan hubungan antar gagasan yang diajukan
3.
Siswa
berhadapan pada masalah yang ill-defined
4.
Pertanyaan
cenderung mempersoalkan masalah dunia nyata
|
II. KONDISI:
mengutamakan otonomi siswa
1.
Melakukan
inquiri dalam konteks masyarakat
2.
Siwa
mampu mengelola waktu secara efektif dan efesien
3.
Siswa
belajar penuh dengan kontrol
diri
4.
Mensimulasikan
kerja secara professional
|
III. AKTIVITAS:
investigasi kelompok
kolaboratif
1.
Siswa
berinvestigasi selama periode tertentu
2.
Siswa
melakukan pemecahan masalah tertentu
3.
Siswa
memformulasikan hubungan antar gagasan orisinilnya untuk mengkontruksikan ketrampilan
baru
4.
Siswa
menggunakan teknologi otentik dalam memecahkan masalah
5.
Siswa
melakukan umpan balik mengenai gagasan mereka berdasarkan respon ahli atau
dari hasil tes
|
IV. HASIL:
produk nyata
1.
Siswa
menunjukan produk nyata berdasarkan hasil investigasi mereka
2.
Siswa
melakukan evaluasi diri
3.
Siswa
responsif terhadap segala
implikasi dari kompetensi yang dimilikinya
4.
Siswa
mendemonstrasikan kopetensi sosial,
managemen pribadi, dan regulasi
belajarnya
|
Project-Base Learning dapat diterapkan untuk semua bidang studi.
Implementasi model ini mengikuti lima langkah utama. Sebagai berikut.
Pertama, menetapkan tema proyek. Tema
proyek hendaknya memenuhi indikator-indikator:a) memuat gagasan umum dan orisinil, b) penting
dan menarik, c) mendeskripsikan masalah kompleks, d) mencerminkan hubungan
berbagai gagasan, e) mengutamakan pemecahan masalah yang ill defined.
Kedua, menetapkan konteks belajar. Konteks belajar hendaknya memenuhi indicator-indikator:a)
pertanyaan-pertanyaan proyek mempersoalkan dunia nyata, b) menggunakan otonomi siswa,
c) melakukan inquiri dalam konteks masyarakat, d) siswa
mampu mengelola waktu secara efektif dan efesien, e) siswa belajar penuh dengan
kontrol diri, f) mensimulasikan kerja secara professional.
Ketiga, merencanakan
aktifitas-aktifitas. Pengalaman belajar terkait dengan merencanakan proyek
adalah:a) membaca, b) meneliti, c) obserfasi, d) interviu, e) merekam, f) mengunjungi obyek yang berkaitan dengan proyek, dan g)
akses internet.
Keempat, memeroses aktivitas-aktivitas. Indikator memeroses aktivitas
adalah:a) membuat sketsa, b) melukiskan analisa, c) menghitung, d) mengenerate, e) mengembangkan prototype.
Kelima, penerapan
aktivitas-aktivitasuntuk menyelesaikan proyek. Langkah-langkah yang dilakukan adalah:a) mencoba mengerjakan proyek
berdasarkan sketsa, b) menguji langkah-langkah yang telah dikerjakan dan
hasil yang diperolah, c) mengevaluasi hasil yang telah diperoleh, d) merevisi
hasil yang telah diperoleh, e) melakukan daur ulang proyek yang lain, f) mengklasifikasi
hasil terbaik.
2.2.3 Project-Base Learning dalam bentuk Project Citizen
Model pembelajaran berbasis proyek yang
akan dilaksanakan dalam penelitian ini adalah model Project Citizen. Project citizen awalnya dikembangkan oleh Center For Civic Education (CCE) Calabasas California di Amerika
Serikat sebagai model kurikulum for Civic
Education dalam rangka meningkatkan kesadaran berdemokrasi peserta didik
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Model ini kemudian
disebarluaskan dan dikembangkan ke berbagai negara termasuk di Indonesia. Model
ini pertama diadopsi di Indonesia oleh Center
for Indonesian Civic Education (CICED, 2000) yang berkedudukan di Bandung.
Terakhir, model ini diadopsi dan diadaptasi serta disebarluaskan oleh Center for Civic Education Indonesia
(CCEI, 2003, CCEI, 2004) sebagai sebuah NGO asing bidang Pendidikan dan Fondation of Democracy (CCEI, 1996,CCEI,
1997).
Model Project Citizenyang mulanya dikembangkan di Amerika adalah sebagai a curricular program at the middle
school through adult levels promoting competent and responsible participation
with government at all levels. The program helps participants learn how to
monitor and influence public policy while developing support for democratic
values and principles, tolerance, and feelings of political efficacy.
Dokumen lain menyatakan
bahwa
Project Citizen is a
civic education program for middle, secondary, and post-secondary students and
youth or adult groups. Project Citizen promotes competent and responsible participation
in state, local, and federal government. It actively engages people in learning
how to monitor and influence public policy. Participants work together as a
class or extracurricular group to identify and study a public policy issue. The
final product is a portfolio that may be presented before other classes,
groups, community organizations, or policymakers.
Lebih lanjut juga dinyatakan:
“As a class project, students
work together to identify and study a public policy issue, eventually developing
an action plan for implementing their policy. Working in cooperative teams, the
class learns to interact with their government through a five-step process that
includes: identifying a public policy problem in their community, gathering and
evaluating information on the problem, examining and evaluating solutions,
selecting or developing a proposed public policy, and developing an action
plan. Students' work is displayed in a class portfolio containing a display
section and a documentation section. In a culminating activity the class
presents its portfolio in a simulated legislative hearing, demonstrating their
knowledge and understanding of how public policy is formulated. Classes may
also be able to enter their portfolios in a local competition with other classe.
Berdasarkan penjelasan tersebut bahwa project citizen adalah sebuah program kurikuler Pendidikan
Kewarganegaraan untuk siswa remaja dan orang dewasa yang mendorong mereka
belajar berbasis projek dalam rangka studi isu-isu kebijakan publik. Dalam
program ini siswa belajar secara kooperatif pada level kelas untuk
mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi, dan merumuskan usul-usul
kebijakan publik yang diajukan kepada pejabat pemerintahan di berbagai level
(lokal, kabupaten, propinsi, nasional, dan internasional). Hasil belajar mereka
umumnya didokumentasikan dalam bentuk portofolio. Portofolio ini kemudian
dipresentasikan dihadapan kelas lain, atau diajukan kepada pejabat pemerintahan
terkait. Dalam portofolio terdokumentasi: masalah-masalah sosial
kewarganegaraan atau isu-isu kebijakan publik yang dapat diidentifikasi, usul
strategi pemecahan masalah, usulan rumusan kebijakan publik, dan rencana aksi.
Untuk mendapatkan produk portofolio ini proses belajar yang dilakukan para
siswa umumnya meliputi: mengidentifikasi masalah-masalah kebijakan publik;
mengumpulkan, menganalisis, dan mengevaluasi informasi; mengkaji dan
mengevaluasi berbagai alternatif pemecahan masalah kebijakan publik;
mengevaluasi dan merumuskan usulan kebijakan publik yang terbaik; merumuskan action plan; mendokumentasikan produk
belajar ke dalam portofolio; mempresentasikan portofolio dalam suatu showcase; dan melaksanakan tindakan
partisipatif untuk mewujudkan lebijakan publik (CCEI, 2003,CCEI, 2004).
Di Indonesia model ini diadopsi
dan diadaptasikan menjadi Praktik Belajar Kewarganegaraan-Kami Bangsa Indonesia
(PBK-KBI) (CCEI, 2003,CCEI, 2004). PBK-KBI diadaptasi menjadi sebuah model
pembelajaran terutama untuk pembelajaran PKn dan IPS, walaupun model ini
sesungguhnya dapat diadaptasi dan diterapkan untuk seluruh mata pelajaran baik
di tingkat sekolah maupun perguruan tinggi. PBK-KBI dalam pembelajaran PKn dan
IPS adalah sebuah model pembelajaran yang memberdayakan siswa untuk learning democracy, in democracy, and for
democracy (Winataputra, 2001). Di sini para siswa belajar mengembangkan
pemahaman konseptual kehidupan berdemokrasi, membangun keyakinan dan komitmen
hidup berdemokrasi, mengembangkan penalaran nilai dan sikap positif
berdemokrasi, belajar membuat keputusan kebijakan yang demokratis, serta
mengembangkan keterampilan-keterampilan sosial kewarganegaraan dalam kehidupan
berdemokrasi di dalam masyarakat, berbangsa, dan bernegara (Sukadi, 2007).
Pembelajaran dalam PBK-KBI ini cenderung berbasis projek. Di
sini siswa belajar dengan pendekatan konstruktivis dan berpusat pada siswa yang
secara kelompok kelas kooperatif belajar menyelesaikan satu projek
kewarganegaraan. Dalam projek kewarganegaraan ini siswa belajar diorientasikan
pada isu-isu kebijakan publik dalam kehidupan berdemokrasi baik dalam tataran
hidup bermasyarakat, berbangsa, maupun bernegara. Mula-mula siswa disiapkan
kemampuan konseptualnya untuk memahami hakikat hidup berdemokrasi dalam
hubungan antara warga negara dengan negara dan pemerintahannya. Kemudian siswa
dibelajarkan untuk peka dan peduli terhadap berbagai persoalan hidup
berdemokrasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Di sini
siswa dididik dan dilatih untuk belajar mengidentifikasi dan merumuskan
masalah-masalah sosial kewarganegaraan dalam perspektif isu-isu kebijkan
publik. Dalam proses identifikasi ini siswa belajar mengenali fenomenanya;
menganalisis kaitan permasalahannya; menganalisis konflik pihak-pihak, konflik
kepentingan, dan konflik nilai yang terjadi dalam isu kebijakan publik; dan
menganalisis serta mengevaluasi informasi yang terkait dengan faktor-faktor
penyebab munculnya masalah (Sukadi, 2007).
Tahap berikutnya para siswa diberdayakan untuk belajar
mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, mengkritisi sumber, menganalisis,
dan mengevaluasi informasi tersebut yang diperlukan untuk pemecahan masalah.
Semua proses belajar ini dilakukan secara kelompok kooperatif. Di sini siswa
belajar tidak hanya secara pasif menerima informasi dari guru, melainkan harus
secara aktif menggali berbagai sumber secara mandiri dengan prinsip belajar
yang sistematis, kritis, sintesis, kontekstual, dan bermakna. Informasi yang
diperoleh pada tahap ini akan menjadi landasan bagi siswa untuk menemukan
berbagai alternatif pemecahan masalah atau isu kebijakan publik (Sukadi, 2007).
Tahap belajar berikutnya adalah siswa belajar mengajukan
berbagai alternatif pemecahan masalah. Di sini siswa belajar menggunakan
informasi sebelumnya untuk mengajukan berbagai hipotesis alternatif dalam
pemecahan masalah, membuat pertimbangan penalaran, melakukan klarifikasi nilai,
dan menetapkan beberapa alternatif pemecahan masalah yang terbaik (Sukadi, 2007).Selanjutnya,
atas dasar alternatif pemecahan masalah tersebut para siswa belajar merumuskan
usul-usul kebijakan publik. Hal ini didahului dengan usaha mengkaji kebijakan
publik yang telah ada (jika ada) relevan dengan alternatif pemecahan masalah
yang diajukan. Jika tidak ada, maka siswa belajar menyusun usulan kebijakan
publiknya secara mandiri dengan mencontoh bentuk-bentuk keputusan kebijakan
publik yang telah ada sebelumnya.
Perlu diperhatikan bahwa setiap usulan kebijakan publik yang
diajukan haruslah mengandung dukungan informasi dan bukti-bukti yang memadai.
Setiap usulan haruslah mengandung usaha evaluasi informasi dan kajian
klarifikasi nilai. Informasi yang dibutuhkan untuk setiap usulan kebijakan
publik adalah: siapa pejabat yang relevan akan membuat keputusan kebijakan, apa
isi substansi kebijakannya, siapa subjek sasaran yang terlibat dalam kebijakan
tersebut, apa bentuk kewajiban yang harus dilakukan dan hak yang dapat diterima
oleh subjek sasaran kebijakan tersebut, apa untung (termasuk manfaat) dan
ruginya (termasuk modal sumber daya yang dibutuhkan) kebijakan tersebut
ditinjau dari kepentingan pihak-pihak pro dan kontra, bagaimana kekuatan sosial
politik dari pihak-pihak pro dan kontra, dan apa dukungan data/informasi dan
bukti-bukti yang akan mendukung efektivitas kebijakan atau menandakan kegagalan
implementasi kebijakan tersebut (Sukadi, 2007).
Langkah selanjutnya adalah membuat usulan rencana aksi (action plan). Di sini siswa belajar
mengembangkan rencana tindakan untuk menggolkan usulan kebijakan publik yang
diajukan kepada pihak-pihak pejabat terkait yang berwenang menetapkan kebijakan
publik. Siswa belajar mengidentifikasi kelompok pro dan kontra, kalau ada, dan
kekuatan-kekuatan sosial politik mereka. Merencanakan kegiatan untuk mereka.
Merencanakan kegiatan legislative hearing
untuk curah pendapat. Melakukan kegiatan sosialisasi ke masyarakat sasaran
kebijakan publik. Menyiapkan sumber daya yang diperlukan untuk
kegiatan-kegiatan tersebut, dan belajar memastikan bahwa setiap rencana
tindakan akan memberikan hasil yang optimal (Sukadi, 2007).
Jika masalah sudah terpecahkan seperti di atas, langkah
selanjutnya adalah siswa belajar mengembangkan portofolio kelas yang terdiri
dari dua dokumen. Dokumen pertama berupa media presentasi. Contoh media
presentasi tersebut adalah sebagai tertera di halaman berikut.
Dalam dokumen media presentasi tersebut terdapat empat bidang
media yang dijadikan satu kesatuan. Bidang pertama mempresentasikan hasil
identifikasi masalah kebijakan publik. Bidang kedua menggambarkan usul
alternatif pemecahan masalah. Bidang ketiga menggambarkan rumusan usulan
kebijakan publik yang ditawarkan. Dan bidang terakhir menggambarkan rencana
aksi. Untuk keempat bidang ini masing-masing perlu diperhatikan unsur-unsurnya
sebagai berikut: kelengkapan, kejelasan, informasi, hal-hal yang mendukung, dan
grafisnya. Sedangkan secara keseluruhan
perlu dipertimbangkan unsur-unsur: persuasif,kegunaan, koordinasi antar bidang,
dan refleksinya (Sukadi, 2007).
Dokumen kedua adalah berupa
dokumen lengkap yang mengandung seluruh informasi dan lampiran-lampiran data
yang diperlukan yang menunjang dokumen media presentasi. Dokumen ini biasanya
merupakan bentuk laporan lengkap dari kerja projek kelas.
Langkah berikutnya dalam
episode PBK-KBI adalah seluruh kelompok siswa belajar mempresentasikan hasil kerja
kelompoknya, baik di hadapan kelas lain, dewan juri yang dipilih jika
dikompetisikan, atau di depan para pejabat terkait yang memiliki kepentingan
dengan usul kebijakan dari siswa. Kegiatan presentasi ini diupayakan agar
seluruh anggota kelas ikut mempresentasikan hasil karya mereka. Dalam kegiatan
presentasi ini siswa diyakinkan dapat mempengaruhi orang lain untuk menerima
usul kebijakan publik yang mereka telah kaji dan hasilkan, baik menggunakan
bahasa verbal, bahasa tubuh, maupun menggunakan bahasa media presentasi. Ketika
para siswa mempresentasikan karya portofolio mereka, tiap-tiap kelompok siswa
dalam bidang masing-masing perlu memperhatikan aspek-aspek presentasi berikut,
yaitu: signifikansinya, pemahamannya, argumentasinya, responsipnya, dan kerja
sama kelompoknya. Sedangkan presentasi secara keseluruhan perlu memperhatikan
aspek-aspek: persuasif, kegunaan, koordinasi antar bidang, dan refleksinya
(Sukadi, 2007).
Langkah terakhir dalam
kegiatan pembelajaran menggunakan model PBK-KBI adalah melakukan refleksi
pengalaman belajar. Dengan dibimbing oleh guru, siswa baik secara
sendiri-sendiri maupun dalam kelompok belajar menilai kembali uhasa belajar
yang telah mereka lakukan, apa yang telah dicapai, apa kendala-kendalanya, dan
berupaya melakukan berbagai penyempurnaan pada kegiatan-kegiatan berikutnya
(Sukadi, 2007).
Menilai proses dan hasil
belajar siswa dalam model pembelajaran PBK-KBI dapat dilakukan dengan model penilaian
otentik, yang meliputi: penilaian kinerja, penilaian produk, penilaian projek,
penilaian diri, dan penilaian portofolio.
2.3 Berpikir kritis
Berpikir
kritis merupakan upaya pendalaman kesadaran serta kecerdasan membandingkan dari
beberapa masalah yang sedang dan akan terjadi sehingga menghasilkan sebuah
kesimpulan dan gagasan yang dapat memecahkan masalah tersebut. Setiap orang
memiliki pola pikir yang berbeda. Akan tetapi, apabila setiap orang mampu berpikir secara
kritis, masalah yang mereka hadapi tentu akan semakin sederhana dan mudah
dicari solusinya. Oleh karena itu, manusia diberikan akal dan pikiran untuk
senantiasa berpikir bagaimana menjadikan hidupnya lebih baik, dan mampu
menjalani suatu masalah sepelik apapun yang diberikan kepadanya. Costa (1985) menggambarkan bahwa
berpikir kritis adalah : “using basic thinking processes to analyze
arguments and generate insight into particular meanings and interpretation;
also known as directed thinking”.
Matindas (1996) menyatakan bahwa: “Berpikir
kritis adalah aktivitas mental yang dilakukan untuk mengevaluasi kebenaran
sebuah pernyataan. Umumnya evaluasi berakhir dengan putusan untuk menerima,
menyangkal, atau meragukan kebenaran pernyataan yang bersangkutan”.
Ruggiero (1998) mengartikan
berpikir sebagai suatu aktivitas mental yang membantu memformulasikan atau
memecahkan suatu masalah, membuat suatu keputusan atau memenuhihasrat
keingintahuan (fulfill a desire to
understand).Pendapat ini menunjukan bahwa ketika seseorang
menemukan masalah dan ingin memecahkan masalah tersebut atau ingin memahami
sesuatu, maka dia akan melakukan
suatu aktivitas berpikir.
Pembelajaran kolaboratif melalui diskusi kelompok
kecil juga direkomendasikan sebagai strategi yang dapat meningkatkan kemampuan
berpikir kritis (Resnick, 1990; Rimiene, 2002; Gokhale, 2005). Dengan
berdiskusi siswa mendapat kesempatan untuk mengklarifikasi pemahamannya dan
mengevaluasi pemahaman siswa lain, mengobservasi strategi berpikir dari orang
lain untuk dijadikan panutan, membantu siswa lain yang kurang untuk membangun
pemahaman, meningkatkan motivasi, serta membentuk sikap yang diperlukan seperti
menerima kritik dan menyampaikan kritik dengan cara yang santun.
Johnsan (2002) memberikan contoh bahwa keterampilan
berpikir kritis dan keterampilan berpikir kreatif beserta kerangka berpikirnya
adalah suatu representasi dari proses kognisi tertentu yang dibuat dalam
langkah-langkah spesifik dan digunakan untuk mendukung proses berpikir.
Kerangka berpikir tersebut digunakan sebagai petunjuk berpikir bagi siswa
ketika mereka mempelajari suatu keterampilan berpikir. Siswa diharapkan dapat
menentukan solusi atau jawaban dari masalah tersebut. Untuk membuktikan bahwa
siswa dapat menunjukkan kebenaran dalam
masyarakat dan menyelesaikan masalah, siswa memerlukan alur pemikiran dengan
kemampuan berpikir kritis.
Menurut
Ennis (Hassoubah, 2004: 87), seseorang yang sedang berpikir kritis memiliki
kecendrungan-kecendrungan, antara lain: 1) mencari pernyataan yang jelas dari
setiap pertanyaan, 2)
mencari alasan, 3) berusaha mencari informasi dengan baik, 4) memakai sumber
yang memiliki kredibilitas dan
menyebutkanya, 5) memperhatikan situasi dan kondisi secara keseluruhan, 6)
berusaha tetap relevan dengan ide utama, 7) mengingat kepentingan yang asli dan
mendasar, 8) mencari alternatif,9)
bersikap dan berpikir
terbuka, 10) mengambil posisi ketika ada bukti yang cukup melakukan
sesuatu, 11) mencari penjelasan sebanyak
mungkin apabila memungkinkan, 12) bersikap secara sistematis dan teratur dengan
bagian-bagian dari keseluruhan masalah, dan 13)
peka terhadap tingkat keilmuan dan kehahlian orang lain.
Dari
beberapa pandangan diatas maka dapat disimpulkanbeberapa ciri berpikir kritis antara lain: 1)menyelesaikan suatu masalah dengan
tujuan tertentu, 2) menganalisis,
menggeneralisasikan, mengorganisasikan ide berdasarkan fakta/informasi yang
ada, dan 3) menarik
kesimpulan dalam menyelesaikan masalah tersebut secara sistematis dengan
argumen yang benar.
Teori berpikir kritis yang peneliti pergunakan
adalah teori menurut Ennis yang relevan dengan
tujuan pembelajaran ilmu pengetahuan sosial dimana siswa diharapkan mampu
berpikir logis dan kritis,memiliki rasa ingin tahu, mampu
memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial dimasyarakat
2.4 Kajian Hasil Penelitian yang relevan
Sukadi (2006) melaksanakan
penelitian tentang pendidikan IPS sebagai rekontruksi pengalaman budaya
berbasis ideologi Tri Hita Karana (Studi Etnografi tentang
Pengaruh Masyarakat terhadap Program Pendidikan IPS pada SMU Negeri 1 Ubud,
Bali). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa konteks sosial budaya masyarakat Bali dalam lingkup kehidupan
masyarakat lokal, lingkup kehidupan berbangsa, dan lingkup kehidupan pariwisata
global memberikan landasan dalam pengembangan visi, misi, dan pelaksanaan
program Pendidikan IPS di SMU Negeri Ubud berbasis idelogi Tri Hita Karana. Ini menunjukkan bahwa konteks sosial budaya
masyarakat Bali memberikan basis bagi proses reproduksi budaya dalam
penyelenggaraan program Pendidikan IPS yang lebih dimaknai guru-guru dan siswa
sebagai proses pemberdayaan peserta didik yang memungkinkan mereka memiliki dan
mengembangkan pengetahuan dan wawasan, nilai-nilai dan sikap, serta
keterampilan sosial secara partisipatif dalam pembelajaran terhadap kehidupan
sosial budaya lokal, nasional, dan global.
Chang dan Kou dan You
(2012)melaksanakan penelitian dengan menggunakanpendekataninstruksionaldan simulasidua-tahapLEDProyek-based learning(PjBL).Hasil penerapan model pembelajaran Project-Base Learningadalah lebihmenantangdan
lebih menarikbagi siswa sehingga merekamendapatkan pelajaran yang
bermanfaatdari praktek yang
dilaksanakan.
Fatimah (2011) melaksanakan
penelitian untuk skripsi tentang Penerapan Metode Project Based Learning (PBL) pada Mata Diklat Ilmu Statika dan
Tegangan untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X SMKN 6 Malang. Hasil
penelitiannya menunjukan bahwa pelaksanaan metode Project Based Learning dapat menunjukkan
perubahan sikap dari yang pasif menjadi aktif. Penerapan metode Project Based Learningjuga dapat
meningkatkan hasil belajar Siswa.
Yudha (2009) melaksanakan
penelitian tentang Penerapan Metode
Project Base Learning (PBL) untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Mata Diklat
Mekanika Teknik pada Siswa
Kelas X Semester II SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen Tahun Pelajaran 2008/2009. Berdasarkan hasil analisis datanya dapat disimpulkan bahwa
penerapan metode PBL terbukti sangat efektif dalam meningkatkan kualitas
pembelajaran mata diklat Mekanika Teknik.
Risqiyati (2011) melakukan
penelitian tentang Penerapan Metode Pemberian Tugas untuk Meningkatkan Hasil
Belajar Geografi Siswa Kelas X 7 SMA Negeri 1 Tumpang. Simpulan hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ada peningkatan hasil belajar siswa melalui
penerapan metode pemberian tugas. Penerapan metode pemberian tugas tersebut
dapat merangsang pola pikir siswa sehingga berdampak pada hasil belajar mereka.
Lestari (2012) melaksanakan
penelitian tentang Penerapan pembelajaran berbasis proyek (Project Based
Learning) untuk meningkatkan hasil belajar daya ingat siswa kelas XI pada mata
pelajaran akutansi di SMAN 1 Sutojayan Kabupaten Blitar. Hasil penelitiannya
menunjukkan bahwa hasil belajar daya ingat siswa di kelas XI IPS V mengalami
peningkatan. Hal ini dapat ditunjukkan dengan meningkatnya hasil belajar daya
ingat siswa dengan melakukan tes evaluasi.
Widodo (2009) juga melaksanakan
penelitian tentang Model Pembelajaran
Project based learning untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Unsur-unsur Geosfer Mapel Geografi Kelas XI
SMAN 1 Sarang Rembang.Hasil
penelitiannya
menunjukan adanya peningkatan pemahaman konsep
unsur-unsur geosfer.
Sopandi (2011) melaksanakan
penelitian tentang Penerapan model pembelajaran Project Based Learning (PBL)
untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa pada mata diklat
kompetensi kejuruan kelas XI Teknik Permesinan di SMKN 1 Singosari. Hasil
penelitian menunjukan meningkatnya aktivitas belajar siswa dan prestasi belajar siswa pada mata diklat
kompetensi kejuruan tehnik permesinan.
2.5 Kerangka Berfikir
Dari kajian teori dan dukungan hasil penelitian yang
telah dideskripsikan sebelumnya dapat dikembangkan kerangka berpikir bahwa
penerapan model pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) dengan bantuan media power point dapat meningkatkan respon belajar siswa dan kemampuan
berpikir kritisnya. Kerangka berpikir tersebut dikembangkan dari rasional
berpikir sebagai berikut. Pertama, penerapan pembelajaran berbasis proyek dalam
mata pelajaran IPS tidak hanya berorientasi pada penguasaan konsep-konsep IPS
secara deduktif. Pembelajaran IPS, sebaliknya, akan bermula pada realita
kehidupan masyarakat yang telah dialami oleh siswa. Dengan memahami realita
kehidupan masyarakat yang menjadi objek kajian IPS, siswa kemudian diajak untuk
belajar membangun konsepnya sendiri dan sekaligus mengenali masalah-masalah
yang terjadi. Konflik kognitif yang timbul kemudian dijadikan dasar untuk
mengidentifikasi masalah dengan segala ruang lingkupnya dan mencoba
mengidentifikasi faktor-faktor penyebab munculnya masalah. Belajar pada tahap
awal seperti ini membantu siswa belajar secara kritis bagaimana membangun
konsep-konsep sosial melalui pengalaman nyata berinteraksi dengan fakta dan
peristiwa-peristiwa sosial di masyarakat sebagai data. Siswa juga akan belajar
bagaimana konsep-konsep dan proposisi sosial yang dibangun dapat menimbulkan
konflik kognitif yang mengharuskan siswa memecahkan masalah yang dihadapi. Di
sinilah sifat kritis yang awal dapat dikembangkan dalam cara atau metode
berpikir siswa, karena siswa tidak hanya belajar menerima konsep yang sudah
jadi, melainkan membangun konsep sosialnya secara mandiri dengan segala resiko
konflik kognitif yang dihadapi karena belum kompleksnya cara berpikir siswa.
Kedua, penerapan model pembelajaran berbasis proyek
dengan berawal pada masalah yang dihadapi membantu siswa tidak saja harus
mengembangkan kerangka berpikir yang kompleks untuk dapat mengatasi masalah,
tetapi dapat pula membantu siswa berpikir kritis untuk mengembangkan metode
berpikir dan metode kerja ilmiah bagaimana dapat memecahkan masalah secara
efektif dan efisien. Dalam proses ini siswa akan belajar menghubungkan
dasar-dasar teori sosial yang dipelajari, mendeduksinya menjadi hubungan antar konsep
dan variabel yang akan diamati, belajar merasionalisasi data-data relevan yang
diperoleh dari fakta-fakta dan peristiwa sosial yang diamati, belajar menguji
kesesuaian antara data dan variabel atau konsep yang dipelajari, dan belajar
membuat simpulan yang relevan pula. Proses belajar seperti ini memaksa siswa
harus aktif secara mental mengembangkan kemampuan berpikir, tidak saja pada
level kemampuan berpikir tingkat rendah (menghafal dan memahami), tetapi juga
harus mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi: melakukan kegiatan
analisis dan sintesis, menilai dan mengkritisi, serta mengembangkan kemampuan
berpikir mengkreasikan atau menciptakan ide-ide baru yang relevan untuk
pemecahan masalah-masalah sosial yang dihadapi.
Ketiga, penerapan model pembelajaran berbasis proyek
cenderung berorientasi pada kemampuan belajar siswa untuk memproduk sesuatu
dalam proses belajar memecahkan masalah-masalah sosial yang dilakukan melalui
memproduksi portofolio serta dinilai dengan pendekatan penilaian yang bersifat otentik.
Proses belajar memproduksi portofolio yang menunjukkan hasil karya belajar yang
terbaik ini jelas membimbing dan memberdayakan kemampuan berpikir kritis siswa
di tingkat analisis, evaluatif, dan proses berpikir kreatif/inovatif. Di
tingkat kemampuan analisis, siswa misalnya belajar mengidentifikasi
faktor-faktor penyebab munculnya masalah secara kritis dan detail, mendeduksi
teori menjadi hubungan antar konsep dan variabel, serta mengumpulkan dan
memilih data yang relevan. Kemampuan berpikir evaluatif, misalnya, dikembangkan
siswa ketika membuat pertimbangan tentang berbagai alternatif pemecahan
masalah, memberikan pertimbangan atas usulan kebijakan publik yang diajukan,
dan melakukan kegiatan klarifikasi nilai secara mandiri dan bertanggung jawab.
Sedangkan proses berpikir kreatif dilakukan siswa ketika harus menghasilkan
ide-ide baru untuk pemecahan masalah. Seluruh kemampuan berpikir dan berkarya
seperti ini akan dieavaluasi dengan pendekatan penilaian otentik yang
mewajibkan siswa harus menunjukkan proses dan hasil belajar yang otentik pula.
Keempat, karena diyakini bahwa umumnya sebagian besar
siswa SMK masih mengalami proses berpikir pada tingkatan operasional konkrit,
maka untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan penalaran yang lebih formal
akan dibantu dengan penggunaan media power
poit dalam pembelajaran. Penggunaan media power point ini akan memediasi siswa dari kemampuan berpikir
tingkat operasional konkrit ke tingkat operasional formal. Caranya adalah
dengan membantu dan membimbing siswa mentransformasi informasi dari satu bentuk
ke bentuk lain dan dari sistem informasi yang paling konkrit ke sistem
informasi yang sangat bersifat abstrak.Jelaslah dari paparan di atas bahwa jika
dapat diimplementasikan model pembelajaran berbasis proyek dengan
langkah-langkah pembelajaran yang efektif, maka diharapkan akan dapat
meningkatkan respon belajar dan kemampuan berpikir kritis siswa dalam
memecahkan masalah-masalah sosial dalam
pembelajaran IPS.
2.6 Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan jawaban
sementara dari sustu permasalahan. Hipotesis dalam penelitian tindakan kelas
ini adalah “penerapan model pembelajaran Project Based Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir
kritis pada siswa kelas x multimedia 3 SMK Negeri 1 Sukasada.
Langganan:
Postingan (Atom)